UPCS: Dari Masalah Tiket, Koreografi dan Momentum Persatuan Suporter Indonesia

UPCS: Dari Masalah Tiket, Koreografi dan Momentum Persatuan Suporter Indonesia

Pertandingan final Piala AFF antara Indonesia vs Thailand akan berlangsung besok (14/12/16) di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor. Antusiasme masyarakat terhadap pertandingan final sudah sangat terasa, hal ini dibuktikan dengan antrian tiket yang cukup mengular di sekitar Garnisun (Jakarta) dan Kodim 0621 (Kab.Bogor) sejak malam hingga pagi hari. Akibatnya, tak sedikit dari masyarakat yang kecewa karena tidak mendapatkan jatah tiket meskipun mereka sudah menginap sejak kemarin demi mendapatkan tiket final Piala AFF.

Nampaknya, pendistribusian tiket yang kurang baik memang bukan hal yang baru di Indonesia. Pada semifinal leg 1 (3/12/16) kemarin pun distribusi tiket yang kurang baik menjadi kendala bagi masyarakat untuk mendukung langsung perjuangan tim Garuda. Hal itu pula yang pada akhirnya membuat UPCS (Ultras Persikabo Curva Sud) selaku "tuan rumah" melakukan aksi boikot sebagai solidaritas terhadap suporter yang tidak kebagian tiket karena distribusi tiket yang buruk. Meski begitu, mereka tetap mendukung timnas, hanya saja mereka mendukung dari luar stadion tidak di dalam stadion.

Indosoccer.id berhasil menemui perwakilan dari UPCS yaitu kang Tedi Mulya dan kang Komeng untuk menanyakan kesiapan mereka jelang pertandingan final Piala AFF besok. Mereka (UPCS) dengan tegas memastikan bahwa tidak akan melakukan aksi boikot seperti yang mereka lakukan pada saat babak semifinal demi mendukung tim Garuda agar berjaya di tanah legenda. Namun, mereka juga tidak menampik bahwa hingga saat ini banyak dari anggota mereka yang belum memegang tiket final. Meski begitu, mereka tetap komitmen untuk tetap datang ke stadion dan berbaur dengan suporter Indonesia yang lain untuk tetap menyokong timnas meski hanya dari luar stadion dan menggunakan layar lebar.

Saat ditanyakan mengenai "teror" apa yang akan diberikan oleh UPCS dan suporter Indonesia yang lain kepada pemain-pemain Thailand serta harapan dari suporter lain agar suporter Bogor menampilkan koreografi seperti yang pernah ditampilkan di Solo dan Sleman saat mendukung timnas,  jawaban Tedi Mulya adalah sebagai berikut.

"Sebenarnya kita ingin buat koreografi, tapi permasalahannya dari pihak kita belom megang tiket...boro-boro bikin koreo, tiket aja belom kejamin...jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya buat temen-temen suporter yang lain, bukannya gak mau buat, tapi kemungkinan besar buat final besok kita belom siap nampilin koreo. Lagipula kalau dipaksakan pun hasilnya pasti kurang bagus..."

Hal serupa terkait koreografi juga diungkapkan oleh Komeng terkait permasalahan koreografi yang mengatakan sebagai berikut.

"Kemungkinan kita masih gak siap buat bikin koreografi, karena dari kitanya juga belom megang tiket, jadi percuma dong kalo kita ada konsepnya tapi kita gak ada tiketnya...kalo di Solo dan Sleman mereka bisa bikin koreo karena mereka gak ada permasalahan distribusi tiket, kalo kita kan masalah tiketnya kacau...tiket offline yang dijual sekitar 15 ribu, di jual di Jakarta 10 ribu, eh di Bogor yang jadi kandang timnas malah cuma dijual 5 ribu tiket dan harus rebutan sama masyarakat umum juga"

Dari dua kutipan diatas cukup memberikan kesimpulan bahwa pendistribusian tiket yang kacau menjadi kendala tersendiri bagi UPCS untuk mengkoordinir kreatifitas (dalam bentuk koreografi) yang akan dilakukan dalam mendukung timnas Indonesia besok malam. Terlebih selaku "tuan rumah"pendistribusian kuota tiket offline dirasa kurang merata, karena kuota tiket yang dijual di Bogor cenderung lebih sedikit dibanding kuota tiket yang dijual di Jakarta.

Hal itulah yang menjadi masalah utama, karena baru kali ini saja kita disuguhkan penjualan tiket dijual jauh dari lokasi berlangsungnya pertandingan digelar. Untuk perbandingan saja, lazimnya bila timnas main di Solo, pasti tiket dijual di Solo, timnas main di Sleman tiket juga dijual di Sleman, bermain di Jakarta tiket pun dijual di Jakarta. Mengapa pada saat timnas main di Bogor tiket tidak dijual terpusat di Bogor saja? Mengapa lebih banyak dijual di Jakarta? Apa karena Jakarta ibu kota? Kalau memang begitu, bukankah lebih adil dan nyaman jika distribusi tiket final dijual di berbagai daerah untuk mempermudah suporter yang datang dari luar daerah? Misal, Jakarta dapet kuota tiket beberapa ribu, Bandung beberapa ribu, Solo beberapa ribu, Papua beberapa ribu, dan seterusnya. Tapi tak apa, semoga dikemudian hari PSSI dapat berbenah dalam hal pendistribusian tiket.

Di akhir wawancara, UPCS sedikit berbagi hal positif dengan diselenggarakannya pertandingan timnas di Bogor. Mereka beranggapan bahwa dengan adanya timnas Indonesia main di Bogor, membuat Bogor jadi destinasi utama sekaligus rumah yang ramah bagi seluruh suporter Indonesia. Hal ini pula yang menjadi momentum persatuan suporter di Indonesia, karena mereka seperti melupakan ego masing-masing. Mereka semua bersatu demi lambag Garuda di dada. Selain itu, dengan dijadikannya Bogor sebagai "tuan rumah" membuat mereka dapat menaikkan kembali eksistensi klub lokal kebanggan mereka yakni Persikabo Bogor. Terakhir mereka berpesan agar suporter timnas yang besok hadir untuk tetap satu komando dalam mendukung timnas,  jaga diri baik-baik dan selalu menjaga kebersihan stadion Pakansari.

Penulis merupakan mahasiswa sosiologi Universitas Negeri Jakarta, penulis dapat dihubungi melalui akun twitternya @rinaldi_tampan

Komentar

Baca Juga