Timnas U-13 yang Terlupakan

Timnas U-13 yang Terlupakan

Malang betul nasib Timnas Pelajar Indonesia U-13, mengikuti turnamen Pelajar Internasional Philipina Cup 2015 pada 27-30 Oktober lalu. Diluar dugaan, timnas U13 keluar menjadi juara. Tetapi bukan sambutan meriah yang didapat, justru kemalangan yang diterima. Di jadwalkan pulang ke Tanah Air pada Minggu (1/11), hingga Kamis (5/11) mereka belum bisa pulang dari Filipina.

Kesulitan kepulangan para punggawa Timnas U-13 dari negara Filipina tersebut dikerenakan pihak Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mengaku tidak pernah mengirim Timnas apapun, termasuk Timnas Pelajar yang diberangkatkan ke Filipina itu.

Ini merupakan hal yang aneh, sebab sedari semula keikutsertaan Timnas U-13 di Filipina adalah hasil inisiasi dari Kemenpora. Seperti yang diberitakan di bola.net, pada bulan September lalu, Kemenpora mengadakan seleksi untuk memilih pemain yang layak memperkuat timnas. Bahkan ketua Tim Transisi, Bibit Samad Riyanto mendukung penuh adanya seleksi yang diharapkan melahirkan pemain masa depan timnas.

Tak hanya itu, pemain yang terpilih pun setelah menjalani seleksi pada bulan September tersebut, telah menjalani TC (Training Camp) yang dimulai pada 5 Oktober lalu dan akhirnya dapat keluar menjadi kampiun di Filipina.

 Seharusnya keberhasilan Timnas U-13 dapat dijadikan klaim oleh pihak Kemenpora sebagai sebuah prestasi karena Tim Transisi, sebagai pihak penyelenggara telah berhasil melakukan pembibitan pemain muda.   

Hal ini membinggungkan, lantas apabila Kemenpora tidak pernah mengirim tim ini ke luar negeri . lalu siapa Timnas U-13 tersebut, berani betul bawa embel-embel Timnas Indonesia?

Ternyata yang membawa Timnas U-13 ke Filipina adalah Kampiun Indonesia yang mengaku ditunjuk Kemenpora dan Tim Transisi sebagai EO. tetapi  penunjukan Kampiun Indonesia sebagai EO oleh pihak Kemenpora dan Tim Transisi dianulir . Pihak Kemenpora dan Tim Transisi tidak mengetahui adanya penunjukan tersebut.

Ricky Yakobi, mantan pemain Timnas Indonesia yang juga salah satu anggota Tim Transisi pun telah mengkonfirmasi bahwa  tidak ada surat resmi yang dikeluarkan dari pihak Kemenpora ataupun Tim Transisi.

“Surat itu palsu. Pihak Tim Transisi sama sekali tidak pernah mengeluarkan surat itu. Kop suratnya pun berbeda," kata Ricky Yakobi kepada detik.com.

Hal ini menjadi menjadi aneh, sebab semula Menpora yang menginisiasi adanya seleksi timnas, tetapi tidak jelas siapa EO yang sebenarnya ditunjuk Kemenpora atau Tim Transisi.  Namun sebelum pertanyaan tersebut terjawab, publik dibuat binggung dengan pengakuan Kuasa Hukum Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Cerdas Bangsa, Martin Siwabessy yang merupakan kuasa hukum orang tua pemain-pemain Timnas U-13. Ia mengatakan adanya modus penipuan di balik keberangkatan timnas ke Filipina, bahkan orang tua para pemain dimintai dana besar dengan jumlah berbeda.

''Mulai dari lima juta sampai dengan sepuluh juta rupiah, kami akan telusuri masalah ini lebih dalam lagi,'' ujar Martin seperti yang dilansir jawapos.com.

Mungkin jawaban atas kemalangan yang menimpa skuad Timnas U-13 yang masih tertahan di Filipina dapat terjawab setelah owner kampiun Indonesia, Gatut Hari Suparjanto yang kini masih menghilang untuk melakukan konfirmasi apa yang sebenarnya terjadi.

Terlepas dari itu semua, seharusnya perjuangan Timnas U-13 perlu diapresiasi, terlepas siapa yang salah atau benar dari masalah ini seharusnya di tengah sepak bola Indonesia yang sedang amburadul  ada secercah harapan karena Timnas-U13 atau apalah namanya, berhasil menyabet gelar juara di tengah miskinnya prestasi yang diraih bangsa ini melalui sepak bola. Kasian.  

Sumber foto: http://www.bolaindo.com.

Komentar

Baca Juga