Tan Malaka dan Sepak bola sebagai Alat Perjuangan

Tan Malaka dan Sepak bola sebagai Alat Perjuangan

" Pembelaan (Pertahanan) yang sebaik-baiknya adalah yang dilakukan dengan menyerang"

Kalimat di atas amat populer dan sering digunakan oleh banyak orang, tetapi siapa sangka, kalimat tersebut merupakan salah satu kutipan yang pernah dituliskan oleh seseorang bernama Tan Malaka dalam salah satu karyanya yang berjudul Gerpolek atau akronim dari Gerilya, Politik dan Ekonomi, sebuah buku yang ia tulis pada tahun 1948.

Siapa Tan Malaka?

Tan Malaka atau yang bernama lengkap Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka merupakan salah satu bapak bangsa Indonesia dan juga Pahlawan Nasional Indonesia. Ia diangkat sebagai pahlawan oleh presiden pertama Indonesia, Soekarno pada tanggal 28 Maret 1963 melalui SK Presiden: Keppres No. 053/TK/Tahun 1963.

Tan Malaka merupakan sosok pahlawan yang visioner, karya-karyanya menjadi semacam “buku wajib” yang dipegang oleh tokoh pergerakan kemerdekaan di masanya. WR Supratman, penulis lagu Indonesia raya mengutip kalimat “tanah tumpah darahku” dari buku Massa Actie(Aksi Massa) karya Tan Malaka, bahkan Soekarno pernah  mengutip tulisan Tan Malaka di buku yang sama sebagai inspirasi pidatonya yang berjudul Indonesia Menggugat sebagai pidato pembelaan yang dibacakan oleh Soekarno pada persidangan di Landraad, Bandung pada tahun 1930 yang atas pidato inilah, Soekarno mantap tetap berjuang untuk kemerdekaan republik ini.

Tan Malaka juga dapat dikatakan sebagai Che Guevara dari Indonesia, atau mungkin sebaliknya Che Guevara adalah Tan Malaka dari Kuba. Perjuangannya tak hanya meliputi Indonesia saja, tetapi beberapa negara di Asia, seperti di Filipina, Singapura, Hongkong, Myanmar, Tiongkok, dan Thailand. Ia membangkitkan semangat revolusi disetiap daerah yang ia kunjungi, bahkan di Thailand, ia pernah mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari), tepatnya di Kota Bangkok pada tahun 1927.

Tan Malaka dan Sepakbola

Tan Malaka sejak kecil dikenal sebagai anak yang cerdas, ia pandai dalam akademis, seperti menghitung dan menghapal (Dengan konsep Jembatan Keledai miliknya) maupun non akademis, seperti mengaji dan jago bermain sepak bola. Dengan keunggulan tersebut, ia pun direkomendasikan oleh gurunya untuk melanjutkan studi di Belanda. Akhirnya Tan Malaka pun melanjutkan pendidikan di negeri kincir angin dengan niat ingin memajukan dan memerdekakan bangsanya.

Selain menuntut ilmu, Tan Malaka juga sibuk dengan olahraga kegemarannya bermain sepak bola. Ia bergabung dengan klub profesional bernama Vlugheid Wint di Harleem selama dua tahun (1914-1916). Posisinya tak main-main, ia didaulat menjadi penyerang klub tersebut. Permainan Tan Malaka bahkan lebih luwes kala dirinya tak menggunakan sepatu alias nyeker.

Kecintaanya terhadap sepak bola juga yang membuatnya jatuh sakit, ia terserang penyakit paru-paru karena tidak pernah mau bermain sepak bola dengan memakai jaket tebal saat musim dingin. Kebiasaan nyeker pun membuat kakinya sering menderita cedera.

Saat kembali dari perantauannya di Belanda, sepak bola masih menjadi alat ia untuk berjuang. Pada saat menjadi pekerja dengan menjadi juru tulis romusha di Banten, tepatnya di daerah Bayah pada Juni 1943. Ia menyamar dan dikenal luas dengan nama Ilyas Hussein.

Disana Tan Malaka menjadi konseptor guna menghidupi gairah sepak bola dan sebagai hiburan bagi romusha yang bekerja di wilayah tersebut, tujuannya utama adalah sebagai alat perjuangan. Ia membuat lapangan sepak bola untuk para romusha, tak hanya itu, ia pun turun dan ikut bermain bersama. Tak jarang, setelah pertandingan usai, ia pun sering mentraktir para pemain.   

Tan Malaka juga memiliki tim sepakbola sendiri yang bernama Pantai Selatan, tim tersebut bahkan pernah ikut turnamen regional. Tak hanya mengikut turnamen, tim sepakbola tersebut juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai tim tonil yang sering mengkritik kebijakan pemerintahan Jepang saat itu.

Secara garis besar, Tan Malaka memang tak terlalu berpengaruh luas dalam hal sepak bola, namanya juga tak seharum Soeratin maupun M.H.Thamrin dalam sejarah perjuangan lewat kulit bundar di Indonesia, namun begitu, jasanya yang besar terhadap negeri ini selayak dapat dijadikan pelajaran berharga, bahwa sejatinya sepak bola merupakan alat perjuangan bukan sebagai boneka politik.

Sumber tulisan:

http://bola.kompas.com

http://news.merahputih.com

Komentar

Baca Juga