Soeratin dan Sepak Bola Kebangsaaan (Bag 2) Cikal Bakal Kompetisi dan Timnas PSSI

Soeratin dan Sepak Bola Kebangsaaan (Bag 2) Cikal Bakal Kompetisi dan Timnas PSSI

Untuk membaca bagian satu tentang terbentuknya PSSI dapat mengunjungi link ini.

“Akhirnya “De waarheit Overwint”,pihak yang menghina dan merendahkan kita tertikam oleh perbuatannya sendiri. Tiada kepercayaan pada sebagian bangsa sendiri”- Soeratin Sosrosoegondo.

Bergulirnya kompetisi merupakan satu-satunya cara untuk mengembangkan pemain muda dan diharapkan timbul semangat nasionalisme sebagai alat perjuangan kebangsaan dan juga untuk mendapatkan tempat yang sama “terhormat” dengan orang Belanda.

Konsep mengembangkan pemain muda sudah menjadi hal pertama yang didengunkan oleh Soeratin sejak PSSI dibentuk, mengutip buku Soeratin Sosrosoegondo: Menentang Penjajahan Belanda dengan Sepak Bola Kebangsaan karangan Eddie Elison, salah satu program PSSI berbunyi sebagai berikut: “Kompetisi pemain usia muda supaya diadakan untuk upaya kaderisasi pemain”.

Program tersebut tidak hanya sebagai janji manis semata, nyatanya Soeratin pun turun serta membentuk kesebelasan PSIM, yang dihuni oleh banyak pemain muda. Ia mengajak pemain yang berasal dari pelajar AMS, HIK, PJS, Taman Dewasa dan SMP sebagai pemain inti PSIM yang mengikuti kompetisi PSSI pertama pada tahun 1933

Untuk menjalankan kompetisi pertama, PSSI banyak mengalami gangguan baik dari pihak klub PSSI yang belum memiliki stadion yang memadai dan dari pihak Belanda (NIVU). Mereka melarang PSSI menggunakan fasilitas olah raga, seperti stadion untuk menggelar pertandingan sepak bola dan menggunakan pemain dari kompetisi mereka.

Mengetahui hal tersebut Soeratin tak kehilangan akal, meski memiliki keterbatasan dimana-mana ia memiliki ide dengan merubah alun-alun menjadi stadion dadakan, selain itu soeratin juga menghimbau pemain pribumi yang ikut kompetisi di NIVU untuk menghormati keputusan NIVU yang saat itu masih bernama NIVB agar tak perlu ikut, meski mereka antusias, karena resiko dipecat dari pekerjaan mereka tinggi.

NIVU yang semula meremehkan PSSI ternyata dibuat panik karena kompetisi buatan PSSI disaksikan oleh banyak orang dan banyak warga yang antusias. NIVU pun kebakaran jenggot, kompetisi yang diadakan dengan cara sederhana mampu menyedot animo penonton melebihi pertandingan yang diadakan oleh NIVU.

Kesuksesan PSSI pun membuat Paku Buwono X bersimpati dan berinisiatif mendirikan Stadion Sriwedari pada mei 1933 untuk kepentingan PSSI dalam menjalankan roda kompetisi PSSI dan pembinaan pemain muda. Di stadion ini pula bendera merah putih pertama kali dikibarkan dalam sejarah organisasi PSSI.

Pada gelaran kompetisi kedua, PSSI akhirnya diakui sebagai lawan berat dari NIVU. PSSI mampu melahirkan pemain berkualitas, Johannes van Mastenbroek yang kala itu menjabat sebagai ketua NIVB (yang berubah jadi NIVU) berinisiatif untuk melakukan kerjasama dengan PSSI dalam pembinaan pemain dan organisasi.

Hal tersebut tak langsung diterima oleh PSSI, mereka terlebih dahulu membicarakan dalam rapat. Namun Perjanjian antara NIVU dan PSSI bernama Gentlemen’s Aggrement benar-benar terjadi, yakni pada 5 Januari1937 di Yogyakarta. Perjanjian inilah tonggak timnas pertama Indonesia terbentuk.

Berkat perjanjian ini, timnas PSSI dapat bertanding dengan tim luar negeri. Lawan pertama timnas Indonesia adalah Nan Hwa dari Tiongkok pada 7 Agustus 1937 di Semarang. Timnas pertama Indonesia dibentuk dengan waktu yang singkat, dari 11 perserikatan yang berada di bawah naungan PSSI, hanya 3 kota yang ikut serta yakni Dari Kota Surakarta (Maladi, Soemardjo, Soewarno, Handiman, Kemi, Soeharto, Soetris, dan Jazid), Kota Jogyakarta (Djawad), dan Cirebon (Sardjan, Moestaram dan ahoed).

Diluar dugaan, Timnas Indonesia mampu mengimbangi permainan Nan Hwa, bahkan sempat unggul 2-1 sebelum akhirnya harus menyudahi pertandingan dengan skor imbang. Hal ini bertolak belakang dengan NIVU yang kalah 4-0 dari tim asal Tiongkok tersebut.

Kemesraan NIVU dan PSSI bertahan hanya kurang dari 2 tahun, hal ini disebabkan NIVU berambisi menggunakan seluruh pemain dari kompetisi untuk Piala Dunia 1938 di Prancis dan tidak menyertakan pemain dari binaan dari PSSI. Soeratin pun geram, semula ia menyodorkan pilihan agar diadakan pertandingan antara timnas NIVU dan PSSI, siapa yang menang akan mewakili Indonesia. Namun NIVU licik, meski pemain yang dikirim oleh NIVU mewakili Hindia Belanda banyak menempatkan pemain primbumi untuk ikut serta, NIVU tetap melanggar janjinya untuk mengikut sertakan pemain dari PSSI.

Melihat kenyataan tersebut, pada kongres PSSI yang ketiga, PSSI memilih membatalkan perjanjian tersebut. Hal ini merupakan salah satu sikap PSSI yang tetap mempertahankan koridor sepak bola sebagai alat perjuangan kebangsaan.

Untuk melanjutkan membaca bagian ketiga dapat mengunjungi link berikut ini.

*Tulisan ini merupakan hasil pencarian di pelbagai situs online yang berkaitan dengan Soeratin Sosrosoegondo dan juga bedah buku dari  buku Soeratin Sosrosoegondo: Menentang Penjajahan Belanda dengan Sepak Bola Kebangsaan karangan Eddie Elison

Ditulis oleh (@handyfernandy)

Komentar

Baca Juga