Sepakbola dalam Alam Pikiran Tan Malaka

Sepakbola dalam Alam Pikiran Tan Malaka

Tan Malaka atau yang bernama lengkap Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Ia dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang begitu mencintai sepakbola.

Semasa menjalani pendidikan sebagai calon guru di Negeri Kincir Angin, tepatnya di Kota Harleem. Tan Malaka mengisi waktu luangnya untuk bermain sepakbola—yang sudah menjadi hobbynya ketika masih di Minangkabau—dengan bergabung dengan klub sepakbola bernama Vlugheid Wint.

Dalam urusan sepakbola, Tan Malaka dikenal sebagai pemain yang berbakat. Meski berasal dari wilayah jajahan Belanda, ia tidak minder. Sebagai penyerang walau bertubuh pendek, ia memiliki tendangan yang dahsyat dan kecepatan lari yang luar biasa.

Tak jarang, karena bermain sepak bola dengan kaki telanjang alis nyeker, kedua kaki Tan Malaka sering terluka. Tak hanya itu, ia sering ndableg ketika diperingati oleh rekan setimnya untuk memakai jaket hangat ketika musim dingin. Alhasil pria yang meraih gelar pahlawan pada tanggal 28 Maret 1963 melalui SK Presiden: Keppres No. 053/TK/Tahun 1963 ini terserang paru-paru.

“Sebagai anggota dari salah satu voetballclub (seoakbola) di Kota Harleem, saya taat menjalankan pertandingan-pertandingan tiap minggu di Kota Harleem sendiri dan di beberapa kampung sekitarnya. Penjagaan diri di musim dingin saya tidak kenal, dan kalau diketahui pun belum tentu diperdulikan” tulis Tan Malaka dikutip dari buku Tan Malaka: Pahlawan Besar yang dilupakan Sejarah

Setelah pulang ke Indonesia—tepatnya kepulangan kedua setelah menjadi tahanan politik di Belanda dan melalang buana di negara-negara Asia, Tan Malaka juga tidak bisa jauh dari sepakbola. Di Bayah, Banten dalam bukunya dari Penjara ke Penjara, ia bercerita telah membentuk sebuah klub sepakbola dan sandiwara bernama Pantai Selatan.

Menurut Hendri Teja, penulis yang belum lama merilis sebuah novel berjudul “Tan: Sebuah Novel” ini berpendapat bahwa ada alasan terselubung mengapa Tan Malaka—yang menyamar menjadi seseorang bernama Ilyas Husein—membentuk tim sepakbola yang juga disinergikan dengan seni tonil atau sandiwara ketika menjadi juru tulis pertambangan batubara Romusha di Bayah.

“Ketika dia (Tan Malaka, red) di Bayah, dia bikin (kesebelasan) Pantai Selatan yang digabungkan dengan klub sandiwara atau tonil. Ada sepakbola, ada sandiwara. Kenapa? Itu tadi. Selain soal jasmani, sepak bola harus dibalut dengan hiburan dan juga melatih kebesaran jiwa para pemain dan tekadnya. Karena kondisi Bayah yang semuanya serba tertekan, miskin, dan kelaparan. Hal ini butuh dialihkan dari kenyataan hidup tadi. Nah, Tan mengalihkan dengan hiburan tersebut . Tapi bukan sekedar hiburan, karena dengan bermain sepak bola, dengan yang namanya (kesebelasan) Pantai Selatan tadi, Tan kemudian menyatukan.” Ungkap Hendri Teja.

Selain itu, penulis buku Tan yang aktif dalam organisaisi Gabungan Serikat Buruh Islam Indonesia (GASBIINDO) ini mengatakan bahwa sepakbola dalam alam pikiran Tan Malaka adalah sepakbola perjuangan dan sebagai alat pemersatu bangsa.

“Iya, (sepakbola) jadi alat perjuangan, alat pembelajaran, terbukti dengan tenun-tenun persatuan yang menyatukan unsur-unsur di Bayah  yang berbeda dalam keseragaman dalam perjuangan memenangkan pertandingan dalam sepak bola” jelas Hendri Teja.

“Di Bayah sendiri ada berapa unsur. Ada orang-orang Romusha, ada PETA (Pembela Tanah Air), ada Heiho (tentara pembantu), dan ada kelompok pemuda di desa. Ini kan terpisah-pisah. Tapi dengan adanya klub yang bernama Pantai Selatan, mereka bisa duduk bareng, jadi sepak bola sebagai ajang persatuan juga. Nah hal ini dibuktikan (Tan Malaka)di Bayah. Sepak bola bisa menjadi instrumen yang besar. Buktinya adalah saking terkenalnya sepak bola-nya Tan Malaka, orang Rangkas Bitung datang ke Bayah” Sambungnya

Dalam buku Madilog, tepatnya dalam bab Filsafat. Tan Malaka sempat menyingung soal sepakbola sedikit. Kalimat lengkapnya sebagai berikut. “Apabila kita menonton satu pertandingan sepakbola, maka lebih dahulu sekali kita mesti pisahkan si pemain, mana yang masuk klub ini, mana pula yang masuk kumpulan itu (penonton). Kalau tidak begitu bingunglah kita. Kita tak bisa tahu siapa yang kalah, siapa yang menang. Mana yang baik permainannya, mana yang tidak.”

Menurut Hendri Teja, disitu sebenarnya Tan Malaka secara tafsiran atau konsep perjuangan atau pergerakan beliau persis dengan sepak bola, dimana harus ada seleksi terlebih dahulu. Mana pemain yang hebat, pemain yang lemah, mana yang hanya bisa jadi penonton, mana lawan, dan mana kawan. Menurut Hendri, hal inilah Teja sebagai konsepsi berfikir untuk mencapai tujuan dan tekad.

“Jadi kalo misalnya bola dalam pikiran Tan Malaka itu bukan cuma sekedar kebugaran jasmani. Tapi dia juga berpikir bahwa olahraga itu sama dengan berkesenian, dimana olahraga itu mesti menghidupi perasaan, cita-cita, dan tekad. Dan dalam olahraga (sepakbola), orang itu diajar, dididik, untuk mencapai sesuatu, mencapai tujuan.” Tuturnya.

“Hiburan, memupuk rasa persatuan, kemudian pembelajaran strategi dan taktik, juga memetakan nama teman-teman yang bisa diajak main atau yang cuma bisa nonton. Gak mungkin yang jadi striker itu orang yang pengecut, yang pasti orang yang penuh semangat yang bisa.” Sambung Hendri Teja.

Ditanyai soal karut-marut sepakbola saat ini, Hendri Teja mengatakan bahwa bila pengurus PSSI masih sering ribut-ribut seperti saat ini karena kepentingan politik pengurusnya, jangan harap datang prestasi.

“Gak mungkinlah kalo pengurus PSSI masih ribut-ribut sepakbola Indonesia bisa membaik. Dimana-mana olahraga itu kan bukan buat ribut, tujuan adanya pengurus (PSSI) itukan untuk agar yang namanya organisasi bisa terorginir kan? Agar pemain itu yah bisa sejahtera, kemudian bisa bermain dengan bagus. Kan itu tujuannya. Bukan ribut antar pengurus, itu menurut saya kesalahan yang fatal. Jauh dari sepakbola Tan Malaka” tutup Hendri Teja.

Memang, dalam urusan sepakbola, nama Tan Malaka tidaklah seharum Soeratin Sosrosoegondo (Pendiri PSSI) maupun M.H.Thamrin (Pencetus lahirnya VIJ (Voetbalbond Indonesia Jacarta) sebagai cikal bakal kesebelasan Persija Jakarta dan penyumbang terbesar pembangunan lapangan sepakbola pribumi pertama di Jakarta), namun jasanya yang besar terhadap negeri ini selayak dapat dijadikan pelajaran berharga, bahwa sejatinya sepak bola merupakan alat perjuangan seperti tujuan awal PSSI didirikan, PSSI harus benar-benar bersih dari politik jika ingin persepakbolaan nasional mengalami kemajuan. 

((Wawancara terhadap Hendri Teja dilakukan pada Sabtu, 22 Oktober 2016 di Warung Hitz, Bogor dalam acara Bedah buku dan diskusi novel TAN: Sebuah Novel))

Komentar

Baca Juga