Reuni Kecil Timnas U-19 di Bhayangkara FC

Reuni Kecil Timnas U-19 di Bhayangkara FC

Menghadapi kompetisi resmi PSSI pada Maret 2017 mendatang, Bhayangkara FC dapat dikatakan sebagai salah satu tim yang paling serius dalam mempersiapkan tim. Hal tersebut dibuktikan dengan menggandeng mantan pelatih Tim Nasional (Timnas) Filipina, Simon McMenemy sebagai pelatih baru mereka menggantikan Ibnu Grahan yang dianggap gagal.

Tentunya penunjukan mantan pelatih PBR (kini Madura United) dan Mitra Kukar ini pun diiringi beban untuk tampil lebih baik dari musim, yakni wajib masuk tiga besar. Sebelumnya Evan Dimas CS hanya menempati posisi ke-7 di klasemen akhir Indonesia Soccer Champinship (ISC) A 2016 lalu.

Klub yang kini mengatasnamakan instasi kepolisian ini pun tetap melanjutkan visi-misinya seperti musim lalu sebagai kesebelasan yang mempriritaskan pemain muda. Total ada 13 pemain yang merupakan alumni dari Timnas U-19 yang kini menghuni Bhayangkara FC.

Pada musim lalu, klub yang memiliki ciri khas seragam hijau ini sudah memiliki 7 nama eks Timnas U-19 asuhan Indra Sjafri, di antaranya Evan Dimas Darmono (gelandang), Fatchurohman (bek), I Pute Gede Juni Antara (bek), Zulfiandi (gelandang), Ilham Udin Armaiyn (gelandang), Hargianto (gelandang) dan Sahrul Kurniawan (bek).

Sementara pada musim ini, total ada 6 pemain baru yang pindah dari klub sebelumnya ke Bhayangkara FC, yakni Awan Seto (kiper), Rully Destrian (kiper), Dinan Javier (striker), Maldini Pali (gelandang), Hendra Sandi (gelandang) dan Muchlis Hadi Ning (stiker).

Sebenarnya ada satu nama lagi yang nyaris bergabung, yakni Hansamu Yama. Namun pemuda berusia 21 tahun tersebut menolak dan memilih mengundurkan diri dari instansi kepolisian agar bisa fokus berkarir bersama Barito Putera.

Memang di Bhayangkara FC ini ada hal unik terkait soal pemain. Mayoritas penghuni skuad The Alligator tersebut merupakan anggota kepolisian. Banyak eks U-19 memiliki pekerjaan sampingan sebagai polisi. Namun meski begitu, ada juga yang bukan polisi alias sipil, contohnya Evan Dimas dan tiga pemain asing Bhayangkara FC musim lalu, seperti Lee Yoo Joon, Oktavio Dutra, dan Thiago Fortuoso.

Bhayangkara FC juga merupakan tim yang paling antusias dalam menghadapi liga tertinggi Indonesia yang rencananya akan kickoff pada 26 Maret 2017 mendatang. Mereka sudah menjalani latihan perdana pada Jumat, 15 Januari 2017 kemarin ketika sebagian tim peserta lainnya masih berlibur, bahkan belum dibentuk manajemen untuk musim depan.

Ujian bagi Bhayangkara

Rencananya musim 2017 ini akan ada regulasi baru yang berbeda dari biasanya. Pertama adalah n pembatasan kuota pemain asing yang kini hanya dibolehkan tiga saja (dua non Asia dan satu Asia). Keuda, terdapat pembatasan umur di mana usia pemain tidak boleh lebih dari 35 tahun, hanya dua pemain saja yang dibolehkan di atas 35 tahun. Selain itu, ketiga klub wajib memiliki setidaknya lima pemain muda dibawah usia 25 tahun dan tiga di antaranya wajib diturunkan sebagai starting line up.

Tetapi nampaknya tiga  regulasi diatas dapat dihindari dengan mudah oleh Bhayangkara karena mayoritas usia pemain masih muda. Namun meski begitu, ada satu regulasi yang mungkin memberatkan klub yang bermarkas di Stadion Gelora Sidoardjo, yakni soal ada tidaknya batasan regulasi untuk pemanggilan pemain ke timnas. Pasalnya, dalam waktu yang tidak lama lagi, Indonesia akan menghadapi SEA Games 2017 Malaysia di mana Timnas Indonesia U-22 diwajibkan ikut serta.

Masalahnya adalah, banyaknya eks Timnas U-19 di tubuh Bhayangkara FC diprediksi akan menjadi tulang punggung timnas sehingga kekuatan kesebelasan yang meraih 54 poin pada musim lalu ini bisa timpang.

Namun, untuk mengantisipasi hal tersebut, Bhayangkara FC nantinya akan menggunakan pemain hasil seleksi di internal Polri. Pasalnya, sebagaimana yang kita ketahui bersama, banyak pesepakbola yang masuk kepolisian lewat jalur prestasi dan dalam beberapa tahun terakhir kepolisian juga rutin melakukan kompetisi antar polisi bertajuk Kapolda Cup, Kapolres Cup, Piala Bhayangkara dll. Tapi bagaimana pun hal tersebut masih ditakutkan lantaran perbedaan kemampuan yang jomplang. Mungkin untuk mengakali hal tersebut, kompetisi internal bisa dirutinkan lewat pembinaan liga, bukan turnamen.     

Inilah ujian yang mungkin bisa menjadi batu terjal Evan Dimas dkk untuk memenuhi ekspektasi. Apalagi minus McMenemy yang masih belum fasih berbahasa Indonesia. Namun, kendala-kendala tersebut bisa saja hilang jika semangat juang seperti dipertontonkan pada tahun 2013 lalu di mana mereka berhasil menjuarai ajang Piala AFF U-19 kembali muncul di tengah-tengah mereka.

Sumber foto: bolaindo.com

Komentar

Baca Juga