Persipura yang Adem Ayem di Bursa Transfer

Persipura yang Adem Ayem di Bursa Transfer

Kompetisi resmi akan kembali digulirkan oleh PSSI. Bila tidak molor, pada Bulan Maret 2017 nanti ajang Liga tertinggi resmi digelar. Untuk itulah, dalam jangka waktu tiga bulan ini, klub-klub peserta liga sudah mulai aktif dalam bursa transfer guna mencari pemain-pemain yang dibutuhkan klub.

Klub-klub dengan tradisi juara seperti Arema, Sriwijaya, dan Persib sudah mulai membidik pemain baru. Bahkan sudah ada yang resmi digaet untuk diperkenalkan kepada publik. Persib misalnya, mereka sudah mendatangkan empat pemain baru, yakni Dedi Kusnandar, Patrick Cruz, Wildansyah, dan Mastunaga Shohei. Hal ini dilakukan demi ambisi untuk menjadi yang nomor satu di republik ini.

Tapi ada hal yang cukup anomali dalam pecaturan persaingan pada musim depan. Juara Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016, Persipura Jayapura masih adem ayem alias belum menampakan kakinya dalam mencari pemain baru untuk musim 2017 nanti. Padahal, sebagai juara bertahan—meski bekuan liga resmi—tim Mutiara Hitam seharusnya tidak terlelap dalam pesta juara—yang meski baru akan digelar tanggal 10 Januari 2017 nanti.

Sebenarnya apa yang dilakukan Persipura yang tidak terlalu agresif di bursa transfer sudah menjadi tradisi. Pasalnya, jarang sekali klub asal Tanah Papua tersebut gembar-gembor untuk mendatangkan pemain bintang, senyap saja. Berbeda dengan rivalnya yang sudah aktif dari jauh-jauh hari.

Musim 2016 lalu misalnya, hampir tiada perubahan signifikan yang dilakukan tim yang bermarkas di Stadion Mandala ini. Di awal, mereka empat pemain baru—yang kesemuanya adalah pemain asing, yakni James Koko Lomel,Boakay Eddie Foday, Thiago Fernandes, dan Yoo Jae-Hoon. Dari keempat nama pemain asing tersebut, hanya Yoo Jae-Hoon yang mendapatkan kepercayaan penuh Persipura, sisanya—atau mungkin sialnya—tiga pemain lainnya hanya berstatus sebagai pemain pelapis Boaz dkk.

Kualitas pemain asing yang didatangkan oleh Jafri Sastra—pelatih Persipura di awal musim—memang mengecewakan karena kalah saing dengan talenta lokal macam Dominggus Fakdawer atau Nelson Alom. Hal ini pulalah yang membuat tim yang terakhir menjuarai ISL pada 2013 lalu tampil kurang maksimal di putaran pertama.

Pada putaran kedua, Persipura sebenarnya mendatangkan dua pemain baru, yakni Ricardinho dan  Edward Wilson Junior—dan mendepak tiga pemain asing lainnya. Namun, pemain yang didatangkan juga tidak terlalu memberi dampak signifikan. Hanya enam gol yang mampu dicetak kedua legiun asing tersebut. kemungkinan besar keduannya pun akan didepak musim depan.

Beruntunglah Persipura memiliki  pelatih yang mampu meningkatkan performa mereka. Adalah Angel Alfredo Vera, pria yang mengantikan Jafri Sastra di awal Agustus 2016 lalu. Siapa sangka, selain mampu membawa tim meraih juara di akhir musim. Ia juga mampu melahirkan pemain muda berbakat seperti Muhammad Tahir, Osvaldo Ardiles Haay, Ricky Kayame, dan Marinus Maryanto Wanewar.

Akhirnya banyak yang berkesimpulan bahwa Persipura tidak terlalu butuh pemain asing, karena kualitas pemain mereka tak begitu berbeda. Alih-alih mengontrak pemain dengan gaji selangit, Persipura justru menyalurkan dana tersebut kepada hal yang lebih menguntungkan bagi klub, yakni pembinaan.

Memang, sebagian besar pemain Persipura sat ini adalah hasil pembinaan pemain muda yang berjenjang berkelanjutan. Selain itu didukung talenta lokal yang berlimpah dan bantuan dari pemerintah lokal menjadi faktor kesuksesan klub yang menjadi runner up ISL tahun 2014 tersebut.

Mungkin, satu-satunya posisi yang bisa dihuni pemain asing di Persipura adalah adalah penjaga gawang. Itu juga—bila mengutip kalimat Yanto Basna—karena grassroot orang-orang Papua lebih memilih menjadi penyerang atau sayap ketimbang santai-santai menjaga gawang.

Sumber foto: fourfourtwo.com

Komentar

Baca Juga