Perlukah Kartu Hijau Diterapkan di Liga Indonesia?

Perlukah Kartu Hijau Diterapkan di Liga Indonesia?

Sejarah baru dalam gelaran sepak bola Italia terukir. Pada kompetisi kasta kedua Italia, Serie B pemberian kartu hijau diberikan untuk pertama kalinya kepada penyerang klub Vicenza, Cristian Galano pada pertandingan antara Vicenza dengan Virtus Entella, Sabtu 8 Oktober 2016.

Berbeda dengan kartu kuning dan kartu merah yang difungsikan untuk menghukum pemain, kartu hijau yang diberikan wasit yang memimpin pertandingan tersebut dimaksudkan sebagai penghargaan kepada pemain yang menjunjung tinggi sportivitas atau fair play.

Kartu hijau diberikan wasit bernama Marco Maniardi seusai pertandingan atas aksi Galano yang menolak melakukan tendangan pojok sesaat setelah tendangannya keluar lapangan. Awalnya, wasit menduga bola tersebut membentur salah satu pemain Virtus Entella sehingga kesebelasan Vicenza dihadiahi corner kick.

Tak pelak protes pun dilakukan pemain Virtus yang tidak merasa mengenai bola. Galano pun sependapat dengan pemain Virtus bahwa bola tidak mengenai siapapun. Akhirnya wasit mengubah keputusan menjadi tendangan gawang buat kesebelasan Virtus.

Apa yang dilakukan oleh Galano merupakan langkah revolusi sekaligus menumbuhkan kembali citra positif yang hilang dari salah satu kompetisi profesional di Italia. Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir, khususnya di Serie B, ramai dengan skandal mafia pengaturan skor yang melibatkan beberapa klub dan puluhan pemain.

Hal ini berdampak besar terutama dalam hal menarik minat penonton sepak bola di Italia yang sebagai mana kita ketahui bersama, setiap tahunnya jumlah penonton yang hadir ke dalam stadion di Italia semakin berkurang. Selain itu, masalah rasial dan anarkis juga kerap tersaji menjadi menu utama yang menyebabkan sepak bola Italia kehilangan pamornya.

Aturan pemberian kartu hijau sendiri merupakan inisiatif yang dilakukan oleh pengelola kompetisi Serie B sejak awal kompetisi bergulir, tepatnya pada 15 Januari 2016. Perlu waktu selama 9 bulan bagi wasit untuk memberikan kartu hijau pertama kepada pemain yang dirasa menunjukan sikap respect dan fair play selama pertandingan.

Upaya-upaya perubahan, salah satunya memberikan kartu hijau merupakan inisiatif yang patut dipuji lantaran pengelola liga masih mau melakukan berbagai macam upaya, salah satunya dengan membuat kebijakan kartu hijau untuk menarik minat agar sepak bola Italia kembali dicintai, terutama bagi masyarakat Italia sendiri.

Mengutip dari Kompas, Presiden Seri B Andrea Bodi mengatakan bahwa kartu hijau sendiri merupakan penghargaan yang hanya bersifat simbolis, namun hal ini dirasa mampu membantu untuk menaikan citra kompetisi divisi dua Italia tersebut menjadi lebih positif ke depannya.

"Ini semua mengenai penghargaan kepada para pemain yang menonjol di antara yang lainnya melalui tindakan-tindakan positif sepanjang permainan, dan dalam olahraga secara umum," ujar Andrea Bodi.

Apa yang terjadi dengan kompetisi yang ada di Italia dan di Indonesia hampir serupa. Isu soal suap dan pengaturan skor juga menjadi persoalan nyata yang dihadapi saat ini. Sama halnya dengan Serie B di Italia, liga kasta kedua di Indonesia, Divisi Utama (kini bernama Indonesia Socccer Championship (ISC) B) menjadi ladang emas bagi para penoda spotfitias untuk beraksi. Kita tak pernah lupa soal tragedi sepak bola gajah pada tahun 2014 lalu yang mencoreng wajah sepak bola Indonesia di mata dunia. Hingga kini, kasus tersebut terkesan mengambang alias dilakukan pembiaran. Pelaku memang sudah dihukum, baik pemain dan pelatih yang terlibat sudah dihukum. Tetapi pelaku intelektualnya masih bebas berkeliaran.

Selain itu, tindakan anarkis yang dilakukan pemain kepada wasit juga masih kerap terjadi. Mengutip data dari Save our Soccer, per Agustus tahun 2016 ini, sudah ada 6 aksi pemukulan dan pengeroyokan terhadap wasit. Hal ini menandakan bahwa belum banyak pemain sepak bola di Indonesia mampu berjiwa besar karena belum mampu mengendalikan emosi saat bertanding.

Satu-satunya yang membedakan antara kompetisi di Italia dan Indonesia adalah jumlah penonton. Di Italia, semakin hari semakin menurun, sedangkan di Indonesia kebalikannya. Namun, hal ini belum mampu menarik investor untuk berinvestasi karena iklim sepak bola Indonesia masih jauh dari kata profesional.

Untuk itulah, sebagai penyelenggara liga, khususnya di Indonesia atau dalam hal ini adalah PT Gelora Trisula Semesta (GTS) mesti putar otak untuk berinovasi agar mampu mendatangkan para investor secara maksimal. Mungkin dimulai dari yang paling mudah, misalnya menerapkan kartu hijau untuk diberikan kepada pemain, official klub atau mungkin kelompok suporter yang dirasa menunjukan sikap yang menjunjung tinggi sportivitas.

Ke depan diharapkan, kejadian yang tidak diinginkan, seperti yang disebutkan di atas, tidak kembali terulang yang pada giliranya bisa menarik minat para pengusaha untuk menegok sepak bola dalam negeri. 

Sumber foto: sindonews.com

Komentar

Baca Juga