Mulyawan Munial dan Obsesinya

Mulyawan Munial dan Obsesinya

Lelaki itu duduk di sudut kanan pojok di deretan kursi paling belakang dalam acara Bincang Taktik Meraba Peluang Timnas di AFF 2016 pada Rabu, 13 November 2016 silam. Setelah dilihat dengan seksama, pria yang menggunakan baju berwarna hijau itu adalah Mulyawan Munial, CEO Munial Sport Group (MSG).

Muly Munial, begitu panggilan akrab pria kelahiran Medan, 1 Agustus 1974 ini. Ia merupakan sosok dibalik layar suksesnya pemain-pemain Indonesia berkarir di luar negeri. Sebagai manajer atau agen pemain ia berhasil mengorbitkan pemain seperti Andik Vermansyah untuk berkarir sukses di Selangor FA, klub asal negara Malaysia. Yang terbaru tentunya adalah kesempatan bermain dua anak muda Indonesia, yakni Ryuji Utomo dan Adam Alis yang sempat menikmati ketatnya kompetisi di Bahrain.

“Oh, mas dari Indosoccer, pantes. Tadi Arthur Irawan hubungin saya, katanya saya lagi disini (acara Bincang Taktik), padahal saya gak bilang siapa-siapa” ujar Muly.

Perusahaan sport agency milik mantan Manajer Pelita Bandung Raya ini tidaklah sembarangan, klientnya kebanyakan didominasi oleh pemain yang lalu lalang menghuni Tim Nasional (Timnas Indonesia). Bila kita masih ingat, beberapa waktu lalu ketika Timnas U-19 bermain di ajang AFF Cup U-19 di Hanoi Vietnam. Total ada tiga pemain dari 23 pemain yang dipanggil membela panji-panji garuda, di antaranya Bagas Adi Nugroho, anif Abdurrauf Sjahbandi, dan Syahrian Abimanyu.

“Maunya saya satu Indonesia saya pegang, cuma karena keterbatasan, saya hanya bisa megang sekitar 30-40 pemain. Dan saya tidak hanya pegang bola saja, tetapi juga ada pelari, bulu tangkis, dan juga perenang. Itu juga karena keterbatasan source juga.” Ungkap Muly.

MSG sebelumnya lebih dikenal oleh para pecinta sepakbola lokal adalah sebagai agen untuk mendatangkan pemain luar negeri. Bila menilik CV-nya terdahulu, nama-nama besar pesepakbola internasional berbondong-bondong datang ke Indonesia, sebut saja Fernando Torres, Rio Ferdinand, Jose Antonio Reyes, Cesc Fabregras, hingga mega bintang Cristiano Ronaldo pun sempat didatangkan.

Namun karena kecintaanya yang begitu besar terhadap sepakbola tanah air, ia kini lebih memfokuskan untuk menjadi manajer pemain Indonesia. Cita-citanya luhur, Muly terobsesi untuk melihat anak-anak Indonesia merumput di Eropa, Jepang dan Amerika Selatan di masa depan.

“Karena bibit-bibit kita bagus-bagus. Kalo kita liat kompetisi, 15 tahun ke bawah kita sangat kompetitif, tapi setelah 19 tahun, tidak ada SSB, tidak ada kompetisi, sehingga mereka hilang, ini tugas saya. Saya yang dulu bisa mendatangkan Ronaldo ke Indonesia, kini giliran saya mengirimkan pemuda Indonesia ke Eropa, Jepang, dan Amerika Selatan.” Tegas Muly.

Pria yang juga merupakan CEO dari Sportsatu.com ini mengaku masih sulit menumbuhkan budaya sepakbola industri di Indonesia. Ia sering menemui banyak pemain lokal di Indonesia masih enggan menggunakan jasa agen pemain. Padahal, akan banyak keuntungan yang didapat si pemain.

“Peran seorang manajer itu sangat penting. Ronaldo sama Messi aja menggunakan manajer atau agen pemain, lantas mengapa disini (di Indonesia) merasa tidak perlu? Padahal posisi-posisi manajer itu adalah membantu pemain dalam soal kontrak, negosiasi, untuk memperjuangkan hak-hak mereka, itu sih tugas-tugas manajer, disini merasa—terutama pemain lokal. Duh kalo saya punya manajer atau agen, saya  dapet 100, eh saya harus ngasih 10 (buat agen). Padahal dengan adanya manajer, mereka bisa dapat 200, harusnya berfikir nilainya seperti itu.” Celetuk Muly.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, MSG juga melakukan sinergi kepada Asosiasi Pemain Sepakbola Indonesia (APSI) dan Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) untuk mengedukasi pemain tentang pentingnya adanya agen pemain.

“Kita perlu menjalin hubungan dengan mereka, bagaimana pun pemain-pemain saya juga anggota mereka juga, dan saya tau pentingnya mereka itu untuk turut serta memperjuangkan kepentingan pemain.” Ungkap Muly

“Saya berharap dengan adanya asosiasi seperti APSI atau APPI bisa memberikan pengarahan kepada pemain tentang pentingnya agen, tetapi jangan salah, masih banyak pemain lokal yang masih beranggapan tidak perlu adanya manajer atau agen” sambungnya.

Selain itu, menurut pria lulusan Bond University, Australia ini kunci sukses sepak bola adalah lingkungan. Muly menilai bahwa lingkungan di Indonesia kurang baik dalam pembinaan usia dini, belum lagi soal kurangnya liga kompetitif untuk pemain muda.

“Sekarang ada lima enam anak muda Indonesia yang ada di Eropa berbaur di akademi sana. Intinya begini, kalo kita ingin sukses harus berada di lingkungan yang sukses. Kedua, ini hukum alam, kalo kita punya bibit yang bagus, tanah yang subur dan lingkungan yang sehat, mudah-mudahan pohonnya bisa jadi sehat. Masalahnya, sekarang lingkungan dan tanah kita tidak sehat dan tidak subur.” Tutup Muly.

Ditulis oleh Handy Fernandy (@handyfernandy), Chief Editor Indosoccer.id.

Komentar

Baca Juga