Membela Dragan Djukanovic

Membela Dragan Djukanovic

Kalo ditanya siapa pelatih yang paling sering mengkritik soal tata kelola kompetisi sepak bola di Indonesia saat ini? Jawabannya jelas, Dragan Djukanovic.

Pelatih asing yang saat ini menukangi tim Pusamania adalah orang yang paling sering dikutip kalimatnya oleh wartawan terkait soal semewarutnya ajang ISC musim ini. Mulai dari wasit yang (menurutnya) berat sebelah, sampai perpindahan jadwal liga layaknya tahu bulat. Serba dadakan.

Salah satu kutipan pria asal Montenegro yang buat saya paling berkesan kurang lebih kalimatnya adalah sebagai berikut "Saya berterimakasih dengan para pemain, selama empat bulan ini, mereka sangat berjuang sangat keras, karena setiap pekannya kami selalu melawan 14 orang dan setiap pekan juga kami melawan wasit, seharusnya mereka malu karena terus merampok poin kami, dan seharusnya mereka di penjara karena selalu merampok,".

Ungkapan kekecewaaan pelatih yang didatangkan untuk menggantikan si "mulut besar" Iwan Setiawan ini tentunya membuat gerah semua pihak, termasuk PT Gelora Trisula Semesta (GTS) selaku penyelenggara yang pada gilirannya menghukum beliau dengan larangan mendampingi tim di beberapa pertandingan dilanjutan ajang ISC musim ini.

Namun, saya sendiri menilai bahwa seorang Dragan justru layak dipuji dan mendapat penghargaan setinggi-tingginya karena kerap kali meluapkan protes. Baik di media, maupun di akun pribadinya. Ia seorang martir, juga garda terdepan untuk perbaikan tata kelola sepak bola di tanah air yang selama ini memang amburadul.

Apa salahnya mendengar ocehan pria paruh baya yang kenyang pengalaman melatih tim-tim Eropa. Meski, ia belum pernah menukangi tim besar di benua biru tersebut. Jabatan tertinggi selama melatih hanya kesebelasan FK Lovćen yang notabene tim sebenjana di Eropa. Namun walau hanya melatih di sebuah negara yang tingkat rendah kompetisinya termasuk rendah di Eropa, tetapi peraturan ditegakan dan spotivitas pun dijaga. Hal inilah yang musti jadi kiblat.

Kok, jadi timbul kesan kalau PT GTS yang dikelola oleh Djoko Driyono Cs ini anti kritik. Padahal semestinya, sebagai operator liga, mereka harus banyak menerima masukan. Baik kritik atau saran agar lebih baik ke depannya. Seorang asing saja peduli, kok kita (seperti) diam-diam saja.

Ingat, liga yang baik akan menghasilkan timnas yang tangguh. Dari sini, saya berkesimpulan bahwa saran dari Dragan seharusnya disikapi dengan pikiran yang jernih dan jiwa yang lapang bukan berbuntut sanksi dan tumpukan denda.

Sumber foto: goal.com

Komentar

Baca Juga

Membela Mundari Karya Minggu, 14 Aug 16 00:00 Membela Mundari Karya