Mardiono dan Rangkaian Jalan Terjal yang Ditempuhnya

Mardiono dan Rangkaian Jalan Terjal yang Ditempuhnya

Ajang pra musim Piala Presiden 2017 tentunya akan terus diingat oleh Mardiono. Pasalnya, pemuda asal Sijunjung ini untuk pertama kalinya dipercaya tampil ke lapangan membela Semen Padang di level senior ketika bentrok dengan Perseru Serui. Berstatus sebagai pemain pengganti, ia dimasukan oleh Nil Maizar di menit ke 76 guna menggantikan Vendry Ronaldo Mofu yang sudah tampil sejak awal babak.

Bermain kurang lebih sekitar 15 menit, pemain yang akrab dipanggil Nono ini cukup merepotkan barisan pertahanan lawan. Bahkan belum lima menit berada di lapangan, ia sudah dilanggar oleh salah seorang pemain Perseru, Franklin Rumbiak yang dalam pertandingan tersebut dihadiahi kartu kuning—sekaligus kartu kuning pertama dalam pertandingan ini.

Walau tidak mencetak gol, pemain kelahiran 4 Maret 1993 ini sempat membuat deg-degan Aleksander Weya, kiper Perseru Serui lewat tendangan keras yang sayangnya masih bernilai shot off target sekaligus menjadi satu-satunya sepakan bola dirinya di pertandingan yang berakhir kemenangan Kabau Sirah 6-0 atas Kesebelasan asal Papua tersebut di Stadion Gelora Pamellengan, Minggu (19/02/2017) sore.

Mungkin bagi kita, 15 menit dalam pertandingan tersebut tidak ada artinya apa-apa. Ya, mungkin kita bisa membincangkan soal statistik Semen Padang yang begitu digdaya di penyisihan grup, yakni dengan memenangkan tiga pertandingan yang dijalani mencetak 12 gol tanpa kemasukan satu gol pun. Namun bagi Nono, inilah buah nyata hasil dari kerja kerasnya selama ini. Bermain bagi Semen Padang adalah impiannya yang sudah lama dirajut dalam benaknya selama bertahun-tahun.   

Sebagai putra daerah Sumatera Barat (Sumbar), semua pesepak bola kelahiran daerah tersebut pastinya mendambakan bermain bagi Semen Padang. Hal ini tentunya menjadi mimpi pemain yang mengakui memiliki darah Jawa dari ayahnya tersebut. Bahkan kini Ia merupakan satu dari 22 pemain yang sudah diperkenalkan kepada publik saat launching skuad pada Jumat, 3 Februari 2017 lalu.

Namun, tak mudah bagi Nono kembali ke pangkuan Kabau Sirah. Walau berstatus sebagai salah satu generasi emas Sumbar—lantaran mampu memenangkan gelar Indonesia Super League U-21 pada tahun 2014 lalu bersama Semen Padang U-21, nyatanya pemain yang kini menggunakan nomor punggung 99 ini tak bisa otomatis naik kelas ke tim senior, bahkan di akhir musim ia di lepas dengan status tanpa klub.

Mengikuti insting milik leluhurnya, ia pun memutuskan untuk merantau dengan  berkarir di luar Pulau Sumatera. Sempat dikabarkan akan dibawa ke Persiba Balikpapan. Ia justru terdampar di Pulau Jawa. Awalnya pemain berusia 24 tahun ini sempat menjalani trial di Villa 2000. Sayangnya, di klub asal Tangerang tersebut, ia gagal lolos. Namun menurut Nono, ia tak masuk dalam skuad tersebut lantaran waktu trial yang mepet dan masih dalam keadaan jet lag.

Akhirnya, ia mendapatkan tawaran bermain di Pusat Pendikan dan Latihan Mahasiswa (PPLM) Purwakarta. Saat itu, daerah tersebut memang sedang gila sepak bola. Bahkan klub Persikad Depok, yang notabene merupakan klub asal Depok di beli oleh PNS daerah tersebut secara patungan dan mengubah nama klub menjadi Persikad Purwakarta.  

Entah bagaimana ceritanya, pemain bertinggi 170 cm ini pun akhirnya bergabung bergabung bersama Persikad Purwakarta yang saat itu dilatih oleh Suimin Diharja. Bahkan ia ikut andil dalam kemenangan Persikad atas Persija Jakarta dengan skor 2-1 dalam laga uji coba pada Maret 2015 lalu.

Namun, nasib buruk masih menaungi Nono. Alih-alih mampu menampilkan kemampuan terbaiknya bersama Persikad, ia harus kecewa lantaran Liga dihentikan secara paksa oleh PSSI dengan tajuk Force Majure. Ia pun kembali terkatung-katung di daerah orang, nasibnya semakin tidak jelas saat itu.

Tuhan memang tak pernah memberikan cobaan yang tak mampu dihadapi oleh hamba-Nya. Akhirnya setelah Persikad kembali ke Kota Depok, Mardiono termasuk satu dari tiga pemain yang dipercaya untuk diberikan kesempatan kedua dengan dipertahankan oleh manajemen yang baru.

Di bawah asuhan Meiyadi Rakasiwi, pria yang mengidolai Christiano Ronaldo ini berhasil menjawab kepercayaan manajemen dengan menunjukan kelasnya sebagai penyerang mematikan. Ia berhasil menjadi top skor Persikad dengan torehan 4 gol dan dalam waktu singkat pemain yang sempat membela PSP Padang ini pun menjadi idola baru bagi Super Depok dan Ultras Persikad, dua kubu suporter yang selalu setia mendampingi Persikad.

Bahkan dalam satu pertandingan, dia berhasil mencetak dua gol, yakni ketika Persikad berhadapan dengan Persita Tangerang yang mana pertandingan tersebut dimenangkan oleh Laskar Margonda 2-0 atas Pendekar Cisadane sekaligus mengakhiri kedigdayaan Persita yang tak pernah kalah di babak grup di Indonesia Soccer Championship (ISC) B musim 2016 lalu.

Kemampuan Nono pun akhirnya terdengar hingga ke daerahnya. Bahkan beberapa hari setelah ISC B berakhir, ia sempat dihubungi pelatih kiper Semen Padang dan penulis meyakini bahwa itu adalah tanda-tanda agar mantan anggora PON Sumbar tahun 2012 ini untuk kembali bermain di Stadion Haji Agus Salim lagi.

Benar juga, ternyata keikutsertaan Persikad di turnamen Piala Walikota Tangerang Selatan di akhir 2016 lalu menjadi ajang terakhirnya untuk berbakti bagi kesebelasan asal Kota Depok ini. Ia menjadi satu dari beberapa nama baru penghuni Semen Padang untuk mengarungi Liga 1 yang rencananya akan bergulir pada Maret 2017 mendatang.

Iya, Mardiono yang kita sering lihat selalu datang paling awal dan pulang paling terakhir ketika latihan di Stadion Merpati pun telah tiada, ia sudah pulang dan membela kehormatan kampung halaman.  Si Anak Hilang kini telah kembali ke habitatnya, bermain di Semen Padang, berkumpul dengan para pemenang.

Tentunya, pencapaian yang diraih saat ini adalah sebuah hasil yang luar biasa. Namun jangan cepat puas. Jalan panjang masih menunggu di depan mata. Tentunya tantangan tersebut harus mampu dilewati dengan tekad dan hati yang lapang. Semangat anak muda!!!

Komentar

Baca Juga