Ezra Walian dan Sikap Terhadap Naturalisasi Pesepakbola Indonesia

Ezra Walian dan Sikap Terhadap Naturalisasi Pesepakbola Indonesia

Saking ngebetnya terhadap Ezra Walian, sampai-sampai Kementerian Pemuda dan Olahraga mengeluarkan surat rekomendasi agar proses naturalisasi sang pemain segera dilakukan.

Memangnya, seberapa hebatkah seorang Ezra Walian? Yang terpenting, bagaimana kita menyikapi keberadaan para pemain naturalisasi Indonesia?

Penulis pernah menelusuri profil Ezra Walian melalui kanal Youtube. Dari video yang dirilis resmi oleh Ajax Amsterdam, tampak bahwa pemain berpostur 178cm ini memiliki kelihaian dalam mencetak gol. Meski begitu, video tersebut hanya bisa menjadi gambaran awal saja. Sangat tidak pas untuk dijadikan acuan penilaian kemampuan seorang pemain.

Kemudian melalui penelusuran media, tercatat bahwa nama Ezra Walian pertama kali mencuat ketika Ajax Amsterdam U-16 menjuarai turnamen Lion City Cup 2012 di Singapura. Di sana, pemain yang memiliki garis keturunan Manado dari sang Ayah ini berhasil meraih penghargaan top skor turnamen.

Ezra Walian promosi ke tim U-21 Ajax Amsterdam, yang dibelanya kini, usai tampil apik bersama tim U-19 di musim lalu. Bersama tim U-19, ia tampil 12 kali dan mencetak 4 gol.

Sayangnya, torehan musim lalu belum bisa berlanjut di jenjang yang lebih tinggi. Saat bermain untuk tim U-21, Ezra Walian baru bermain sebanyak 7 kali tanpa mencetak satu gol pun.

Meski disebut bakal menjadi pemain naturalisasi Indonesia, nama Ezra Walian sebenarnya pernah membela tim junior Belanda. Ia bahkan pernah mencetak 5 gol dalam satu pertandingan kala tim U-17 Belanda menang telak, 12-0, atas San Marino di ajang Kualifikasi Piala Eropa U-17.

Dari uraian di atas, kesimpulan penulis adalah terlepas dari kemampuan individu yang disebut-sebut berkualitas plus ditunjang pengalamannya menimba ilmu di salah satu klub legendaris Eropa, sosok Ezra Walian masih berada dalam tahap mencari jati diri sebagai seorang pesepakbola.

Ia masih butuh jam terbang lebih banyak bersama timnya—sesuatu yang ia belum dapatkan bersama Jong Ajax—serta konsistensi di tiap pertandingan. Untuk saat ini, masih sulit menilai kemampuan Ezra Walian secara menyeluruh, begitu pun dengan prospek jangka panjangnya.

Faktor usia yang masih belia serta keterbatasan data mengenai rekam jejak Ezra Walian secara mendetail dan akurat mungkin bisa dimaklumi. Namun, itu bukan menjadi penghalang bagi kita untuk menilai kemampun sekaligus mengkritisi rencana naturalisasi sang penyerang.

Mengapa perlu dikritisi? Hal itu berangkat dari pengalaman yang sudah-sudah terkait pemain naturalisasi yang pernah bermain untuk timnas Indonesia.

Rekam Jejak Para Pemain Naturalisasi dan Bagaimana Menyikapinya

Semenjak era Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim, timnas mulai getol memakai jasa pemain asing yang dinasionalisasikan. Alasan paling klisenya adalah timnas kerap kesulitan mencari pemain lokal yang betul-betul menonjol untuk beberapa posisi, terutama penyerang, gelandang serang, dan bek tengah. 

Secara individu, sejumlah pemain naturalisasi tampil apik dan memberi warna berbeda bersama timnas. Selain Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim. Ada sosok Stefano Lilipaly yang pada Piala AFF 2016 lalu tampil memesona bersama skuat Garuda.

Di sisi lain, terdapat beberapa pemain naturalisasi yang gagal tampil memuaskan bersama timnas. Nama-nama seperti Greg Nwokolo, Raphael Maitimo, Victor Igbonefo, Sergio van Dijk, dan Diego Michiels adalah contohnya.

Meski pernah menjadi pemain inti, mereka tidak memberikan dampak signifikan terhadap kualitas permainan timnas. Contohnya di Pra Piala Dunia 2014 dan Piala AFF 2014, yang mana timnas terpuruk di kedua ajang tersebut.

Diego Michiels kini bahkan lebih dikenal karena tindakan indisiplinernya, sehingga ia kerapa berurusan dengan komite disiplin kompetisi dan pihak manajemen klub yang dibelanya.

Selain itu, sejumlah pemain naturalisasi lain bahkan tidak terdengar kabar terkait karirnya belakangan ini. Adakah yang ingat—tanpa bantuan google—bermain di klub mana pemain-pemain seperti Johnny van Beukering, Tonnie Cusell, dan Ruben Wuarbanaran saat ini?

Dari pemaparan di atas, penulis ingin menekankan bahwa tidak ada jaminan bahwa kehadiran pemain naturalisasi akan membawa perubahan besar ke arah positif terhadap performa dan prestasi timnas Indonesia.

Menggunakan jasa pemain naturalisasi mestinya cukup menjadi solusi kesekian. Karena pada dasarnya, solusi utama untuk meningkatkan kualitas timnas adalah pembinaan pemain muda serta kompetisi yang kompetitif dan sehat.

Kendati demikian, kita tidak bisa melarang keinginan pemain asing atau blasteran yang ingin menjadi warga negara Indonesia.

Kita tidak bisa mencegah keinginan Ezra Walian menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Toh, ia pernah memposting dukungannya terhadap perjuangan timnas di Piala AFF 2016 melalui Instagram. Ia pun pernah beberapa kali menyambangi Indonesia guna mengunjungi tanah leluhurnya di Manado dan kota-kota lainnya.

Kita juga tidak bisa menutup pintu rapat-rapat untuk para pemain non pribumi lain, semisal Shohei Matsunaga yang beberapa bulan lalu pernah menyatakan niatnya memiliki KTP Indonesia. Tinggal bertahun-tahun di bumi pertiwi tampak membuat pemain asal Jepang tersebut semakin lekat dengan nilai-nilai kehidupan di negeri ini.

Intinya, mereka berkeinginan pindah kewarganegaraan atas dasar kecintaannya terhadap negeri Indonesia. Dari sini dapat dikatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang salah dengan naturalisasi pemain.

Nah, soal kepantasan para pemain naturalisasi membela timnas, itu urusan lain. Mereka baru sebatas berpeluang, bukan otomatis langsung menyegel tempat di skuat timnas. Pada dasarnya, semua pemain, baik pribumi maupun naturalisasi memiliki hak yang sama untuk membela timnas. Tidak ada hak istimewa di antara keduanya.

Jika para pemain naturalisasi membawa dampak positif yang besar terhadap prestasi timnas, itu jelas pertanda bagus. Namun, jika sebaliknya, maka perlu dievaluasi kembali kehadiran mereka di skuat Garuda. Bahkan, kalau dirasa perlu, tinggalkan mereka sejenak. Tapi jangan musnahkan kesempatan mereka menjadi WNI dan membela timnas.

Itulah yang perlu digarisbawahi dan dimengerti oleh pelatih timnas serta para pelaku kebijakan sepak bola nasional lainnya.

Ditulis oleh Dimas Andi Shadewo, penulis dapat dihubungi melalui akun twitternya di @dimasandi31

Sumber foto: youtube.com, sidomi.com, dan twitter Ezra Walian. 

Komentar

Baca Juga