Dibalik Acara #NgobrolSimulakra

Dibalik Acara #NgobrolSimulakra

“Biarin dah kita mah kagak kaya suporter lain yang keren-keren itu. Yang penting kumpul terus, berkarya terus, dan ketawa terus. Makasih teman-teman”

Kalimat diatas adalah ungkapan rasa syukur dari seorang bernama Haryadi Budi Mulyana atau yang dikenal publik sebagai Bang Kubil, selaku Ketua Umum Suporter Persikad Depok, Super Depok. Ia merupakan salah satu inisiator acara #NgobrolSimulakra, yakni acara bedah buku Simulakra Sepakbola  karya penulis sepak bola, Zen RS.

Kubil berpendapat bahwa, suporter harus aktif dalam pelbagai kegiataan karena suporter adalah bagian dari masyarakat. Untuk itulah, dalam rangka memperingati hari jadi Superdepok yang ke-9 sekaligus memperingati hari Sumpah Pemuda, maka ia dan kawan-kawan suporter Persikad yang terdiri dari pelbagai bidang disiplin ilmu dan pekerjaan bersatu padu mengadakan acara literasi di Depok.

Acara yang berlangsung di Kedai Ekspresi pada Jumat (14/10/2016) malam tersebut dapat dikatakan sukses berat. Pengunjung yang datang pun memenuhi seluruh ruangan hingga beberapa ada yang berdiri juga duduk lesehan lantaran tidak mendapatkan kursi yang sudah dipenuhi oleh pengujung yang datang lebih dahulu.

Karena macetnya Depok—akibat pembangunan saluran air di Margonda, Zen pun datang telat. Namun, tak membuat acara yang sekaligus sebagai ajang silahturahmi suporter se Jabodetabek ini tidak menarik. Sang Moderator, Ivan mampu membuat suasana diskusi buku diawal acara menjadi cair. Belum lagi ulasan cerdas dari kedua pandit sepakbola asal Kota Depok, Aditya Nugroho dan juga Abimanyu Bimantoro dalam membahas buku ketiga karya Zen ini juga menambah syahdu acara.

Ketika Zen datang, acara semakin menarik. Ulasannya, seperti biasa, selalu tajam dan berbobot. Lini masa pun dibuat ramai. Hastag #NgobrolSimulakra menempati tangga kedua trending topic di Twitter.

Dalam perbincangan #NgobrolSimulakra, Zen mengatakan bahwa football writing memang harus dimulai dan berpijak pada tanah (daerahnya) sendiri. Sehingga akan ada efek positif bagi lingkungan.

“Tulislah apa yang terjadi dilingkunganmu, tulis sepakbola tarkamnya, ssb lokalnya. suporter haruslah juga penulis.” Ujar Zen

Tak hanya itu, pendiri website panditfootball itu pun mengatakan bahwa suporter Indonesia dalam hal loyalitas tak perlu dipertanyakan lagi.Berkali-kali Zen memuji suporter Persebaya atau yang dikenal dengan Bonek. Karena tak ada lagi di dunia suporter yang begitu mencintai klub sepak bola seperti bonek yang merupakan akronim dari kata bondo nekat (modal nekat).

“Away day di eropa tidak ada apa-apanya dengan away day suporter indonesia. Bonek yang ngumpet di roda pesawat contohnya” ungkap Zen.

Dalam acara bedah buku ini, hadir juga “imam besar” dari penerbit buku Indie Book Corner, Ahmad Khadafi. Dalam acara tersebut beliau berharap agar acara ini bisa menumbuhkan budaya literasi sepak bola di Indonesia, khususnya di Depok.

“Mudah-mudahan, acara #ngobrolsimulakra mampu menumbuhkan literasi sepak bola di Indonesia & literasi sepak bola Indonesia” ujarnya.

Indie Book Corner sendiri adalah penerbit yang mencetak buku Simulakra Sepakbola. Awalnya buku tersebut akan dicetak ketika ajang Piala Eropa 2016 lalu, tapi diundur. Namun pembeli tetap antusias. Kabarnya buku karya Zen ini merupakan karya best seller di penerbit tersebut.

Akhirnya, acara bedah buku sendiri berakhir dengan perayaan ulang tahun Superdepok yang ke-9 dengan pemotongan kue yang dilakukan oleh Kubil. Terbukti, suporter tidak melulu sebagai pembuat onar juga perusuh. Suporter juga mampu berperan dalam memajukan budaya minat baca tulis. Kado terindah di hari jadi Super Depok yang ke-9.

Komentar