Delapan Musim untuk Satu Tendangan Penalti

Delapan Musim untuk Satu Tendangan Penalti

Gegap gempita di Jalak Harupat Rabu (30/11) lebih banyak bukan dikarenakan Persib Bandung berhasil menang besar atas tamunya Perseru Serui dalam lanjutan Indonesia Soccer Championship 2016. Suka cita luar biasa yang juga dirasakan seluruh penggemar Persib di seluruh penjuru negeri ini lebih disebabkan oleh gelandang bertahan, Hariono akhirnya mencetak gol di pertandingan kompetitif.

Bukan mengecilkan kemenangan dengan gelontoran banyak gol yang terjadi karena Persib selalu kesulitan dalam penyelesaian akhir sejak awal musim. Kemenangan besar 6-2 atas kesebelasan asal Kepulauan Yapen tersebut bisa dibilang hanyalah bonus.

Tetapi tajuk utama dari pertandingan kemarin adalah Hariono akhirnya melesakan bola ke gawang lawan. Bahkan Hariono sebenarnya sudah menjadi pusat perhatian sejak sebelum pertandingan di mulai karena ia akan bermain di posisi bek tengah pada laga tersebut. Hal ini disebabkan keadaan gawat darurat di lini pertahanan Persib yang ditinggal banyak pemain karena cedera, hukuman, dan membela Tim nasional.

Cerita awal mendaratnya Hariono di kota Bandung pun sudah pasti semua orang tahu. Ia merupakan bagian dari gerbong yang dibawa Jaya Hartono dari klub sebelumnya Deltras Sidoarjo. Ketika mantan pemain belakang Tim nasional Indonesia tersebut ditunjuk untuk menukangi Persib Bandung pada tahun 2008. Kedatangannya pun tidak terlalu mengesankan bagi bobotoh – para penggemar Persib. Apalagi di posisi gelandang bertahan sudah ada nama Suwitha Patha yang karismatik dan juga merupakan kapten tim. Tetapi bagaiman ia kemudian dicintai di Kota Bandung mungkin hanya para bobotoh yang tahu.

Menyoal kemapuan teknis bermain, Hariono tentu bukan berada dalam kategori yang sama dengan Firman Utina, Eka Ramdani, Ahmad Bustomi, atau bahkan Evan Dimas yang diberkahi kemampuan mengoper bola yang hebat dan juga visi yang bagus. Sementara Hariono seperti yang semua sudah tahu bahwa ia adalah gelandang bertahan yang bertugas memutus serangan lawan. Pada tahun-tahun awalnya permainan Hariono pun sebenarnya tidak terlalu populer di Bandung. Terlalu keras dan kasar, jegal sana dan jegal sini. Koleksi kartu nya pun cukup banyak. Rasanya tidak ada partai tanpa Hariono tidak terkena kartu kuning.

Selama dua tahun terakhir bobotoh dan publik sepakbola Indonesia disuguhkan metamorfosis luar biasa dari seorang Hariono. Ia sudah bukan lagi sekadar gelandang tukang jagal. Hariono kini sudah mampu membagi bola dan mengalirkan serangan. Pergerakannya pun tidak sekaku dahulu. Bahkan untuk urusan menjegal, Hariono kini lebih sabar dan memilik perkiraan waktu yang baik sebelum menghentikan lawan.

Tetapi bukan soal kemampuan teknis yang membuat Hariono begitu dicintai. Tetapi soal loyalitas dan kerja keras. Berbicara soal loyalitas, Dengan segala hormat, ketimbang Atep yang merupakan putera daerah, Hariono punya sejuta alasan untuk pergi. Tetapi ia kemudian memilih untuk tinggal dan bertahan, bahkan hingga delapan musim lamanya. Maka harga dari loyalitas seorang Hariono menjadi begitu tidak ternilai.

Loyalitas Hariono membawanya bersama Persib dalam keadaan yang baik maupun buruk. Hariono ada di sana ketika Persib beradaptasi di masa peralihan Liga Indonesia menuju Liga Super. Hariono tetap setia ketika Persib mengawali start yang luar biasa buruk pada Liga Super musim 2010/2011 yang hampir saja melempar mereka ke jurang degradasi. Hariono ada di sana ketika Persib berhasil menjadi juara nasional setelah puasa hampir dua dekade. Hariono tetap setia ketika pelatih selalu mendatangkan gelandang baru yang kemungkinan besar akan menggeser posisinya dan mengurangi menit bermainnya. Dan Hariono tetap tinggal dan setia ketika para penggawa yang berjasa di keberhasilan memenangi ISL 2014 pergi dan mengajaknya turut serta.

Hariono selalu ada disana untuk menjegal dan menghentikan serangan lawan. Apalagi dalam dua tahun terakhir ia menerima tanggung jawab sebagai wakil kapten. Semua bisa melihat bagaimana Hariono selalu ada di sana membela rekan setimnya.

Gol yang dicetak melalui titik penalti pada pertandingan melawan Serui juga sangat menggambarkan kepribadian dari Hariono. Sebuah gol sederhana ‘hanya’ melalui titik penalti. Bukan sebuah sundulan melayang di udara, tendangan salto, atau tembakan sensasional dari jarak jauh. Sebuah gol sederhana dari sosok yang sederhana seperti Hariono. Apalagi reaksi selebrasinya yang tetap kalem seperti biasa.

Mencetak gol mungkin bukan cara Hariono untuk memberikan kegembiraan bagi para bobotoh. Bahkan pada pertandingan tersebut saja Hariono mesti ‘dipaksa’ oleh Atep dan Tony Sucipto agar mau mengeksekusi tendangan penalti. Cara Hariono adalah dengan bermain dengan memberikan yang terbaik dan tim mampun mengakhiri hari dengan kemenangan.

Karena meskipun tidak mencetak gol sekalipun. Bagi para bobotoh, Hariono kini sudah berada dalam ruangan yang sama dengan Robby Darwis, Adjat Sudrajat, Dadang Hidayat, dan bahkan pelatihnya sendiri, Djadjang Nurdjaman sebagai legenda di Persib Bandung.

Yang pasti eksekusi penalti Hariono pada akhir bulan November tahun 2016 ini akan selalu dikenang. Dan bahkan lebih jauh lagi akan tercatat dalam tinta emas karier Hariono selama berseragam biru kebanggan Persib Bandung. Karena rasanya eksekusi penalti tersebut sama berharganya dengan tendangan penentu di Jakabaring dua tahun lalu.

Ditulis oleh Aun Rahman. Penulis dapat dihubungi melalui akun sosial media Twitter di @aunrrahman.

Sumber foto: www.indobolanews.com dan bobotoh.id

Komentar

Baca Juga