[Cover Story] Zen RS Bicara tentang Persikad, Pembinaan Usia Dini dan Pentingnya Ruang Terbuka Hijau di Depok

[Cover Story] Zen RS Bicara tentang Persikad, Pembinaan Usia Dini dan Pentingnya Ruang Terbuka Hijau di Depok

Zen Rachmat Sugito atau yang dikenal secara luas dengan nama Zen RS adalah salah satu pegiat football writing sekaligus pengamat sepak bola di Indonesia. Karya-karyanya dalam bentuk tulisan sering kita jumpai dipelbagai media dunia maya. Mulai dari situs berita online hingga media sosial.

Selain dikenal sebagai penulis sepak bola, chief editor sekaligus pendiri website panditfootball.com ini juga aktif menulis dipelbagai isu. Mulai dari isu soal politik, sejarah, filsafat, hingga karya fiksi. Bahkan, sering kita jumpai dalam tulisan Zen adalah perpaduan kesemuanya yang dikemas menjadi  sebuah karya sastra yang menarik.

Buku Simulakra Sepakbola merupakan buah tangan ketiga bapak dari Serat Sati Dhyana ini, setelah sebelumnya merilis dua buku berjudul Jalan Lain ke Tulehu dan Traffic Blues.  Buku yang bersampul warna merah dengan gambar seorang pemain sepak bola yang sedang menendang televisi ini menjadi bahan pembahasan dalam acara #NgobrolSimulakra pada Jumat (14/10/2016) malam di Kedai Ekspresi, Beji, Kota Depok.

Acara bedah buku Simulakra Sepakbola berjalan dengan menarik. Pengunjung yang datang tumpah ruah. Zen sangat pandai dalam menuturkan kata-kata. Ulasannya tajam dan berbobot. Pria yang sempat belajar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini secara berapi-api membicarakan banyak hal yang berkaitan dengan sepak bola, terutama sepak bola dalam negeri. Pembahasan lengkapnya bisa dibaca di tulisan “Dibalik Acara #NgobrolSimulakra”.

Setelah acara #NgobrolSimulakra dan sesi tanda tangan selesai. Tim Indosoccer dan Depokklik berhasil mewancarai pria dengan alamat akun twitter @zenrs ini. Ia berbicara seputar Kota Depok, mulai dari sepak bola Depok wabil khusus Persikad Depok, pembinaan usia dini dan ruang terbuka hijau di kota yang dikenal sebagai penghasil belimbing kelas wahid.

 “Di Inggris itu ada kampus namanya Oxford gak ngapa-ngapain. Di Depok ada kampus UI, juga nggak ngapa-ngapain. Sebenarnya sama aja. Jadi, Persikad Depok gak usah terlalu rendah diri, misalnya ada UI tapi sepak bolanya gak maju. Di inggris ada klub sepak bola namanya Oxford United, yah itu gak ngapa-ngapain.”

Begitu jawab Zen begitu kami tanyai soal Persikad Depok. Ia berpesan bahwa manajemen Persikad harus pandai menarik simpati warga Depok untuk mengenal salah satu indentitas sebagai warga Depok salah satunya dengan membuat website Persikad yang memiliki konten seputar cerita tentang Persikad dan seputar kegiatan sepak bola di Kota Depok. Buat Zen,tidaklah penting Persikad main di ISL atau tidak.

“Kalo buat ku sih, gak penting Persikad masuk ISL atau tidak, itu urusan yang lain. Yang paling penting, Persikad Depok ini menjadi ramai stadionnya dan menjadi identitas baru generasi-generasi muda di Depok. Saya kira salah satu cara untuk dilakukan adalah mendekati anak-anak yang masih SMP-SMA yah. Saya kira mereka (manajemen, red) harus membuat website Persikad” ungkap Zen.

Saat ini, seperti yang diketahui bersama, di Kota Depok—yang mendeklarasikan diri sebagai kota layak anak—masih sangat minim atau terbatas terkait fasilitas lapangan sepak bola dan ruang terbuka hijau. Zen pun mengkritisi hal tersebut, menurutnya ketidak tersediaan ruang terbuka akan membuat anak-anak menjadi egois dan individualistik. Mereka kehilangan tempat untuk kembali bersenang-senang menikmati dan menghayati dunia anak-anak yang pada gilirannya mereka lebih banyak terkurung dalam dunia sekolah dan pelbagai kegiatan les yang menurut suami dari Galuh Pangestri ini sangat membebani mereka.

“Sekolah sudah menjauhkan anak-anak dari dunia-nya. Dibebani dengan PR yang begitu banyak, dengan kurikulum yang membebani. Dengan target UAN yang nilainya harus sekian. Untuk mengejar itu, mereka harus les, harus bimbel, dan lain-lain. Mereka tak bisa bersenang-senang. Mereka tidak bisa aneh-aneh, gak bisa bangor-bangor seperti saya dulu. Nah menyelamatkan tempat publik, pada dasarnya adalah memberi ruang kepada anak-anak untuk menjadi anak-anak. Karena tugas paling penting bagi anak-anak adalah menjadi anak-anak.” ketus Zen.

Selain itu, Zen juga bertutur soal pembinaan dan masa depan sepak bola Indonesia, khususnya di Depok. Menurutnya, sepak bola dalam negeri tidak akan pernah punya harapan apabila kondisi yang terjadi saat ini terus berulang-ulang.

“Pembinaan jelek karena memang tidak terstruktur. SSB yang bagus itu hanya dapat diakses anak-anak orang kaya. Dan pada dasarnya passion sepakbolanya itu aktivisial kebanyakan. Kalo mau maju SSB itu harus terakses oleh seluruh lapisan masyarakat di desa-desa. Di kota pun harus bisa mengakses orang-orang yang ada dipinggiran yang secara ekonomi juga kalah. Mereka harus punya sepatu bola, harus punya kostum, untuk bisa ikut SSB” kata Zen.

Zen tidak mempersoalkan pengurus PSSI adalah orang politik. Namun, ia mengingatkan agar pengurus tersebut untuk tidak lupa akan tugas utamanya sebagai seseorang yang berkepentingan untuk mengurus tata kelola sepak bola di Tanah Air.

“Gak ada, yah gak ada harapan. Karena PSSI-nya begitu dan negara (pemerintah, red) tidak menganggap penting sepak bola. Politisi jadi pengurus PSSI sih gak papa. Dimana-mana sepak bola tak bisa dipisahakan dari politik. Persoalannya adalah PSSI lupa ngerjain PR-nya, kalo ngomongin sepak bola yah mereka harus serius, kalo ngomongin kompetisi yah mereka harus serius, aturan main ditegakan dan jangan berubah-ubah, jangan serba toleran dengan praktik-praktik yang tidak benar. Mereka siapin kurikulum pembinaan. Nah itu gak ada semua.” Tutup Zen.

Komentar

Baca Juga