[Cover Story] Rudy Eka Priyambada, Celebest FC, dan Pentingnya Pembinaan Usia Dini

[Cover Story] Rudy Eka Priyambada, Celebest FC, dan Pentingnya Pembinaan Usia Dini

Soeratin Sosrosoegondo, pendiri sekaligus ketua umum PSSI pertama dalam sebuah forum pernah mengatakan bahwa pembinaan usia dini adalah salah satu program PSSI. Menurutnya, menggelar kompetisi adalah satu-satunya cara untuk mengembangkan potensi pemain muda dan diharapkan timbul semangat nasionalisme sebagai alat perjuangan kebangsaan serta mendapatkan tempat yang sama “terhormat” dengan orang Belanda.

“Jika bertanding melawan klub NIVB (Asosiasi sepakbola bentukan Belanda) tidak boleh kalah. Untuk setiap pemain harus berlatih dengan penuh semangat, berdisiplin dan kerja keras dan kompak. Titik pembinaan diletakan pada pelajar dan pemuda” ujar Soeratin Sosrosoegondo.

Untuk merealisasikan hal tersebut, pria tamatan Sekolah Teknik Tinggi di Hecklenburg, Jerman ini ikut serta dalam pembentukan keselebasan PSIM Yogyakarta yang dihuni oleh banyak pemain muda. Kebanyak mereka berasal dari pelajar AMS, HIK, PJS, Taman Dewasa dan SMP sebagai pemain inti PSIM yang mengikuti kompetisi PSSI.

Hingga kini, untuk menghormati jasa Soeratin Sosrosoegondo terhadap sepakbola Indonesia serta concern terhadap pembinaan usia dini, namanya diabadikan dalam nama trofi yang diperebutkan dalam kompetisi sepak bola junior tingkat nasional, Piala Suratin.

Adalah Rudy Eka Priyamba, atau yang akrab disapa dengan panggilan Coach Rudy Penjol merupakan salah satu pelatih yang sangat peduli dengan pembinaan usia dini. Namanya mungkin tidak setenar Djajang Nurdjaman atau Rachmat Darmawan. Namun, sepak terjangnya dalam sepakbola tanah air tidak dapat dikesampingkan begitu saja.

Banyak yang melabeli pria yang berusia 33 tahun ini adalah salah satu pelatih muda potensial di Indonesia. Bila menilik dari curriculum vitae (CV), Rudy merupakan pelatih yang memiliki banyak keistimewahan. Di usia ke-31 ia sudah mendapatkan lisensi kepelatihan A AFC pada tahun 2014. Hal ini sekaligus menasbihkan dirinya menjadi pelatih termuda Indonesia yang meraih penghargaan tersebut.

Tak hanya itu, ketika mengikuti kursus kepelatihan lisensi B AFC, ia mendapatkan beasiswa program kursus kepelatihan Future Asia yang diadakan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pada 2011-2012. Beasiswa tersebut diraih ketika ia mendapatkan kursus lisensi C AFC di Malaysia dengan status lulusan terbaik.

Rudy pernah menukangi sebuah klub semi pro Australia, Monbulk Rangers dan membawa timnya juara Energy Cup 2012 FFV East Victorian Regional. Berkat prestasi tersebut, ia termasuk sebagai Elite Coach di bawah Federasi Sepak Bola Australia (FFA).

Dengan rekam jejak tersebut. ia pun didapuk menjadi salah satu orang kepercayaan Coach Indra Sjafri saat di Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-19 dengan sebagai tim analis. Nantinya, data yang didapat oleh Rudi diserahkan kepada Indra untuk diterapkan.

Bila kita masih ingat kemenangan Timnas U-19 melawan Korea Selatan di laga terakhir babak kualifikasi Piala Asia U-19 tahun 2013 lalu, kemenangan 3-2 Indonesia atas Korea adalah hasil dari analisis Rudy yang menilai bahwa pemain tengah Korea buruk dan Indonesia berhasil memanfaatkan kelemahan mereka dengan menguasai lini tengah dan mematikan sayap mereka.

Selepas masa kerjanya berakhir di Timnas U-19, Rudy sempat menjadi asisten pelatih di Mitra Kukar, namun tidak bertahan lama lantaran terjadi force majure kompetisi di Indonesia. Kemudian nasib membawanya kembali ke luar negeri, kali ini ia mendapat pinangan tim Divisi Dua Liga Bahrain, Al Najma. Di kesebelasan tersebut,  Ia dikontrak sebagai asisten pelatih tim utama Al Najma dan sebagai Direktur Teknik Pengembangan Pemain Muda Al Najma.

Setelah berhasil membantu Al Najma promosi ke Bahrain Premier League, Rudy pun pulang ke Indonesia dan membuat sebuah proyek pembinaan usia dini jangka panjang. Proyek tersebut dikenal dengan nama Celebest FC Palu—hasil akuisisi hak bermainnya klub Villa 2000.

Celebest FC sendiri bermarkasi di Stadion Gawalise, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Pembentukan klub ini adalah hasil rembuk dari berbagai pihak, salah satunya dari Abdee Negara, gitaris Slank yang memiliki ambisi untuk memajukan sepakbola Sulawesi, teruma bagi Kota Palu sendiri.

Menurut Rudy, Sulawesi merupakan surga pemain berbakat di Indonesia. Pada perjalanan awal Celebest FC di Indonesia Soccer Championship (ISC) B 2016 sendiri adalah 80% merupakan talenta lokal daerah dan seluruhnya adalah pemain muda dengan usia dibawah 24 tahun!!!.

“Kemarin karena melatih untuk sepakbola Sulawesi, saya harus mencari daerah-daerah. Apalagi Sulawesi juga merupakan surganya pemain, banyak pemain bagus. Saya pikir banyak genetik pemain bola bagus ada di Sulawesi. Intinya (Celebest FC) 80% orang Sulawesi dan 20% pendatang. Kemarin cuma segitu yah paling ada 5 sampai 6 orang pendatang.” Ungkap Rudy kepada Indosoccer ketika bertemu di acara Bincang Taktik “Meraba Peluang Indonesia Juara di Piala AFF 2016” Rabu, 16 November 2016 lalu.

Sayangnya, di musim perdana Rudy melatih Celebest FC, hasilnya kurang maksimal. Tim berjuluk Tanduk Anoa ini hanya mampu finish posisi buncit di babak 16 besar ISC B 2016. Namun meski begitu Rudy tetap bersyukur.

“Karena sekarang tidak lolos (8 besar ISC B, red) itu buat evaluasi ke depan untuk lebih bagus, apa yang perlu saya perbaiki. Jadi saya lebih tau dari pada kemarin. Untuk bisa lolos masih terlalu dini lah, kita semua belajar, saya pun belajar di Celebest FC. Tujuannya ke depan lebih bagus, lebih profesional. Yah kedepannya kita membuka akademi, pembinaan pelatih-pelatih, seperti itu.” ujar Rudy.

Memang prestasi tidak bisa datang dengan instan, untuk itulah kita menghargai betul apa itu proses. Rudy sendiri bercerita banyaknya perbedaan ketika melatih di Bahrain dan ketika menukangi Celebest.

“Pertama (perbedaan, red) fasilitas gak bagus, dan pertama kali saya datang kesana (Kota Palu , red) gak ada manajemen sama sekali. Saya buat manajemen pertama kali rata-rata anak Slankers, jadi yah sehabis itu fasilitas kita inovasi yang lapangan tadinya padang pasir sekarang alhamdulilah jadi bagus. Itu penting banget untuk sepakbola agar lebih bagus.” Curhat Rudy.

Terakhir, Celebest FC saat ini tengah bernegoisasi soal mengalihkekuasaan stadion yang sebelumnya dipegang oleh pemerintah daerah (Pemda) menjadi milik klub. Menurutnya, bila stadion dimiliki klub akan timbul rasa kepemilikan yang tinggi dan dikembangkan menjadi bisnis.

“Sudah saatnya stadion diberikan ke klub, jadi supaya klub itu mandiri dan lapangan bisa dirawat. Kalo klub yang pegang kan nanti ada duit karcis, duit pajak, dan itu kan juga enak buat pemerintah. Karena selama ini stadion dipegang pemerintah ini gak jelas. Klub-klub pun nyewa, jadi tidak ada rasa tanggung jawab. Dan lapangan tidak bisa dijadikan bahan bisnis, misalnya tur stadion atau sekat-sekat untuk tempat jualan, tempat atm, dan lain sebagainya” terang Rudy.

Bila menilik perjuangan yang dilakukan oleh Rudy di Celebest FC, sekilas persis dengan yang dilakukan Soeratin di PSIM. Dalam sejarah sepakbola tanah air tercatat bahwa PSIM yang dibentuk pun baru bisa juara di Perserikatan pada tahun kedua setelah pembentukan dan pembinaan usia dini yang dilakukan Soeratin sebelumnya. Dalam hal ini keduanya sepakat bahwa proses adalah kunci.  

Ditulis oleh Handy Fernandy (@handyfernandy), Chief Editor Indosoccer.id.

Komentar

Baca Juga