Bangkitnya Tim Juku Eja di Tangan Seorang Menir

Bangkitnya Tim Juku Eja di Tangan Seorang Menir

Seluruh penjuru Indonesia mengenalnya, Raja Gowa ke 16 yang lahir di Gorontalo dan meninggal di Makassar ini telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk tanah Sulawesi sebelum Indonesia resmi berdiri pada tahun 1945. Siapa yang tak kenal Sultan Hasanuddin? Pahlawan nasional yang terkenal akan perjuangannya menumpas para kompeni dengan gagah berani ini, tak henti-hentinya ia kobarkan untuk mengusir para penjajah dari tanah tercintanya.

Atas keberaniaan dan tekadnya tersebut, Sultan Hasanuddin dijuluki oleh kolonial Belanda sebagai De Haantjes van Het Osten, atau yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah ayam jantan dari timur. Yang hingga kini, julukkan tersebut terpatri  pada tim sepakbola kebanggaan kota Makassar, PSM Makassar.

Namun itu dulu, seratus tahun lebih sudah berlalu, saat dimana warga Makassar berlomba-lomba menjatuhkan kolonial Belanda demi kemerdekaan Indonesia pada masanya. Kini  semua sudah berubah, PSM Makassar yang pada tahun 2016 lalu menginjakkan usianya yang ke 101 tahun harus banting tulang untuk kembali berjaya di persepakbolaan nasional, sempat terseok-seok PSM mulai merangkak naik di bawah komando pria kelahiran Amsterdam Belanda, Roberts Rene Alberts.

Sempat terpuruk di awal kompetisi yang mengharuskan sang Raja duduk di peringkat ke 16 dari 18 tim membuat sang menir memutar otak lebih keras, Roberts bukan pelatih awal PSM dalam ajang ISC A 2016, Roberts baru didapuk setelah Luciano gagal mengangkat kinerja tim untuk dapat bersaing ke papan atas kelasemen liga. Walau bermaterikan pemain tim nasional seperti Ferdinand Sinaga, RiZky Pellu, dan Rasyid Bakrie. Luciano gagal total saat membesut tim asli kota Makassar tersebut.

Roberts pun hanya menukangi pemain seadanya yang didapatkan dari  pemain sisa-sisa arahan Luciano mengiringi perjuangan menir di putaran pertama ISC A 2016 dengan 4 kekalahan beruntun di 4 laga perdana seorang menir membesut tim ayam jantan dari timur.

Pada putaran ke 2 ISC A, Roberts tak patah arang, Robert berani merombak sebagian besar skuadnya. Hal  pertama yang dilakukan adalah, pelatih asal Belanda tersebut mencoret habis pemain asing milik PSM. Selanjutnya mantan pelatih Arema itu mencoret beberapa pemain-pemain lokal yang sekiranya tak cocok dengan strategi yang diterapkanya dengan mendatangkan  Titus Bonai, Hisyam Tolle, Deny Marcel, Luiz Ricardo dan beberapa nama lainya.

Tidak melulu pemain bintang, Roberts berani memainkan siapa saja yang mampu mengimplementasikan strateginya di lapangan tanpa harus berfikir pemain bau kencur ataupun senior. Dengan tangan dinginnya,   tim juku eja berhasil mencatatkan 10 laga tanpa pernah tersentuh kekalahan dan di akhir musim mampu meraih finish di peringkat 6 kelasemen akhir isc a 2016. Sebuah torehan sensasional bila menilik pada putaran pertama ISC A yang membuat PSM berada di peringkat bawah klasemen!.

Sekarang harapan besar warga Makassar berada di pundak seorang menir. Sanatisme dan kecintaan publik Makassar yang terbangkitkan karena adanya Roberts, membuat seisi Makassar mulai bangkit dari tidur panjangnya. Pelatih yang mengawali karir di Indonesianya dengan membesut Arema Indonesia di kancah Indonesia Super League pada tahun 2010 lalu, langsung mambawa tim berlogo singa tersebut menjadi kampiun pada pagelaran ISL 2010, tidak hanya itu di Piala Indonesia, Roberts juga sempat mengantarkan Arema menembus babak final sebelum dikalahkan Sriwijaya FC pada laga pamungkas di tahun yang sama.

Sebelum membesut Arema, menir pernah membesut tim asal Malaysia dan Singapura. Di Singapura Roberts sukses membawa Home United berjaya menjadi juara liga Singapura tanpa tersentuh kekalahan sama sekali. Beralih ke negeri serumpun Malaysia, Roberts juga berhasil membawa Serawak dan Kedah menjuarai liga Premier Malaysia-kasta kedua di negeri jiran tanpa tersentuh kekalahan, alias unbeaten.

Pada ajang liga musim depan, publik Makassar pantas berharap lebih kepada Robert. Kedatangan Hamka Hamzah dan Zulkifli Syukur yang notabenya putra asli daerah, sedikit banyak  akan menambah kekuatan PSM Makassar pada lini belakang yang di musim lalu sangat rapuh dan sangat mudah untuk diobrak-abrik lawan. Dahaga gelar selama hampir 16 tahun sepatutnya wajib terhapuskan untuk tim yang sejatinya menjadi Raja dalam bagian besar persepakbolaan nasional tersebut. Ewako Makassar!.

Ditulis oleh Twitter: @EDAVIDK

Sumber foto: PT GTS 

Komentar

Baca Juga