Bambang Pamungkas = Pemimpin Idealis

Bambang Pamungkas = Pemimpin Idealis

Beberapa hari yang lalu saya menyempatkan diri untuk membaca buku Bambang Pamungkas yang kedua berjudul ”PRIDE”.

Buku ini menceritakan tentang bagaimana perjalanan karir seorang Bepe, sapaan akrab Bambang Pamungkas. Salah satu hal yang paling disorot di buku ini adalah tentang sikap Bepe dalam menghadapi konflik-konflik yang terjadi di sepakbola Indonesia.

Ada Satu hal berharga yang saya dapatkan setelah membaca buku ini yaitu Bambang Pamungkas merupakan representasi seorang pemimpin yang mempunyai idealisme yang sangat kuat.

Di zaman seperti sekarang ini mencari sosok pemimpin idealis bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Tetapi Bepe berhasil mematahkan anggapan tersebut, bahwa masih ada sosok pemimpin idealis saat ini yaitu dirinya.

Bepe merupakan sosok yang berani berkata benar ketika ia benar dan berkata salah ketika ia salah. Serta berani melawan segala kezaliman dan ketidakadilan. Sebagai seorang pemimpin, Bepe siap menjadi pendengar yang baik, mendengar setiap keluh kesah rekan-rekannya.

Hal ini dapat dilihat dari sikapnya dalam menghadapi konflik-konflik yang terjadi. Bepe berani menantang klub yang telah dibelanya selama belasan tahun, Persija Jakarta. Demi menuntut hak rekan-rekannya beserta dirinya.

Walaupun dia menyadari bahwa ada pergolakan batin di dalam dirinya, tetapi rasa tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin mengalahkan pergolakan tersebut.

Bukan hanya membela rekan-rekannya di Persija saja, Bepe juga ikut membantu pemain-pemain dari klub lain yang memiliki masalah. Bepe yang merupakan wakil presiden Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) selalu siap sedia untuk membela hak-hak pemain yang tertindas.

Ketika terjadi dualisme di sepakbola Indonesia antara PSSI vs KPSI, Bepe kembali melakukan hal yang sangat berani di mata orang banyak. Bepe mengambil keputusan yang dianggap kontroversial, yang membuatnya dianggap seabgai pengkhianat oleh sebagian orang yaitu memilih untuk bergabung ke dalam timnas Indonesia.

Padahal pada saat itu KPSI melarang pemain-pemain yang berlaga di ISL termasuk Persija klub yang dibela Bepe untuk bergabung dengan timnas. Dan KPSI pun mempunyai timnas tandingan

Tetapi bagi Bepe kepentingan negara di atas segalanya dan hanya ada satu timnas yaitu timnas Indonesia yang secara hukum diakui oleh FIFA. Hal ini yang membuatnya mengambil keputusan tersebut.

Pada tahun 2016 ini pun Bepe kembali lagi menunjukkan sikap yang berbeda dengan yang lainnya. Dia menolak turnamen di saat banyaknya turnamen yang diselenggarakan ketika Indonesia sedang di banned oleh FIFA.

Dalam masalah ini, melalui akun instagramnya Bepe memberikan komentar “menyelenggarakan turnamen untuk mengisi jeda kompetisi saya setuju, yang saya tidak setuju adalah hilangnya idealisme kita dan prioritas kita untuk segera menggelar kompetisi, karena faktanya semua turnamen yang digelar selama ini tidak dapat mengakomodir seluruh pesepakbola di Indonesia”.

Walaupun hal ini tidak terdapat di dalam buku keduanya ini, tetapi menurut saya hal ini membuktikan bahwa Bepe tetap konsisten akan prinsip yang dipegangnya.

Selain sikap berani dan berpegang teguh pada prinsipnya, Bepe juga menunjukkan jiwa kepemimpinannya yang lain yaitu bertanggung jawab dan berjiwa besar..

Ketika kalah di final AFF Cup 2010 melawan Malaysia, Bepe menahan diri untuk tidak menangis. Karena dia merasa sebagai pemain senior, dia bertanggung jawab untuk membesarkan hati seluruh pemain dan tetap memelihara keyakinan mereka bahwa masih ada hari esok.

Hal terakhir, dia dengan berjiwa besar mengakui bahwa dirinya merupakan generasi yang gagal. Karena tidak dapat mempersembahkan satu gelar bergengsi pun untuk Indonesia. Hanya segelintir orang yang berani mengakui dirinya gagal seperti yang dilakukan oleh Bepe.

Semua hal di atas dilakukan oleh Bepe karena ia menganggap bahwa, “esensi dari kepemimpinan adalah pengorbanan. Karena pada akhirnya seorang pemimpin harus berkorban, berkorban dengan berani mengambil sikap. Memimpin dengan memberi contoh, bukan dengan ketakutan atau rasa belas kasihan kepada diri sendiri”.

Teruslah menginspirasi dan tetaplah menjadi pemimpin idealis untuk selamanya wahai Bambang Pamungkas!

Ditulis oleh Gunanda Hasdiansyah, penulis dapat dihubungi melalui akun twitternya yang beralamat di @gunanda38

Sumber foto: syair.org

Komentar